KALTIMPOST.ID-Dampak El Nino mulai dirasakan sektor pertanian Kaltim. Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim mencatat sekitar 2.400 hektare sawah terdampak kekeringan sepanjang Agustus 2026. Dari luasan tersebut, sekitar 200 hektare masuk kategori kekeringan berat.
Kepala DPTPH Kaltim Fahmi Himawan mengatakan, kondisi kering mulai dirasakan sejak awal Agustus dan diperkirakan masih berlangsung sepanjang September.
“Pada September diperkirakan masih mengalami kondisi yang sama. Oktober baru akan turun hujan, walaupun hujannya masih di bawah rata-rata. Diperkirakan November hujannya cukup deras atau di atas rata-rata,” ujar Fahmi, Senin (31/8).
Meski tekanan kekeringan meningkat, aktivitas tanam padi di Kaltim masih berjalan. Berdasarkan data Kementerian Pertanian hingga akhir Agustus, realisasi tanam telah mencapai sekitar 80 persen dari target pemerintah pusat yang berada di kisaran 240 ribu hektare.
Baca Juga: Usai 1.000 Runner Taklukkan 5K, Tika dan Tiwi T2 Panaskan Panggung Sebaru Fun Run Balikpapan
Fahmi mengatakan capaian tersebut didorong kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi vertikal, serta DPTPH di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota.
“Memang kita selalu mendorong agar tetap dilakukan upaya penanaman dan memastikan luas pertanaman kita tetap konsisten, bahkan ditingkatkan sampai betul-betul kita mengalami kondisi yang diprediksi kesulitan air,” katanya.
Hingga akhir Agustus, DPTPH belum menerima laporan tambahan mengenai tanaman yang mengalami puso (gagal panen). Sebelumnya, pada Juli, sekitar 25 hektare lahan pertanian di Paser dilaporkan gagal panen. Pemkab Paser disebut telah menyiapkan bantuan hibah bagi petani terdampak.
Sementara itu, sekitar 2.400 hektare sawah yang mengalami kekeringan tersebar di tujuh kabupaten dan kota di Kaltim. Tingkat dampaknya terbagi dalam kategori ringan, sedang, dan berat.
Pada kategori ringan, tanaman masih berpeluang dipanen dengan potensi kehilangan hasil hingga 20 persen. Kekeringan sedang berpotensi menekan hasil panen 20–50 persen.
Risiko terbesar berada di sekitar 200 hektare lahan dengan kategori kekeringan berat. Kehilangan hasil pada kondisi tersebut dapat mencapai 50–100 persen dan berpotensi berujung gagal panen apabila pasokan air tidak membaik.
Baca Juga: Tiga Bulan Antrean Pertalite Mengular, Pedagang di Balikpapan Mengaku Omzet Turun 50 Persen
“Kita khawatir memang yang kondisi berat ini bisa mengalami 50 sampai 100 persen gagal panen. Tapi kita berharap tidak terjadi,” pungkas Fahmi.
Dengan kondisi kering diperkirakan bertahan sepanjang September, upaya menjaga ketersediaan air menjadi penting agar kekeringan tidak meluas sekaligus mempertahankan produksi pangan Kaltim hingga hujan kembali meningkat. (rd)
Editor : Romdani.