KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kemarau panjang mulai memberi tekanan pada ketinggian air Sungai Mahakam. Meski mengalami penyusutan, debit air belum sampai menghambat aktivitas pelayaran di sungai yang jadi salah satu urat nadi perekonomian di Kaltim itu.
Untuk mengantisipasi adanya masalah di lalu lintas air, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Samarinda mengimbau perusahaan pelabuhan, agen kapal, nakhoda, hingga pemilik terminal khusus untuk menyesuaikan muatan kapal di bawah kapasitas normal.
“Kami mengeluarkan imbauan agar muatan barang disesuaikan di bawah batas normal,” kata Kepala KSOP Kelas I Samarinda Mursidi, usai rapat bersama unsur pimpinan DPRD Kaltim, Selasa Petang, 1 September 2026.
Penurunan debit air berdampak langsung pada draft atau sarat kapal, terutama tongkang yang rutin melintasi alur Sungai Mahakam. Semakin berat muatan, semakin dalam kapal masuk ke badan sungai. Di tengah air yang menyusut, ruang aman untuk berlayar pun ikut mengecil.
Meski begitu, KSOP memastikan aktivitas pelayaran dan pemanduan kapal masih berjalan normal. Hingga kini, belum ada penutupan alur pelayaran.
“Kalau untuk pelayaran terkini, memang sempat debit air menyusut. Kegiatan pemanduan dan pelayaran masih tetap berjalan. Saat kapal melewati tempat-tempat kritikal atau daerah yang memang perlu dilakukan penundaan, itu tetap dilakukan,” ujarnya.
Penyesuaian muatan menjadi salah satu langkah utama untuk menjaga keselamatan pelayaran. Mursidi mencontohkan tongkang yang dalam kondisi normal mampu mengangkut sekitar 7.000 ton barang. Dalam situasi debit air menurun, muatan itu harus dikurangi menjadi sekitar 5.500 hingga 6.000 ton.
Pengurangan tersebut diperlukan agar draft kapal tidak terlalu dalam dan berisiko menyentuh dasar sungai di titik-titik kritis. “Kalau normalnya satu tongkang itu 7.000, maka harus dikurangi menjadi misalnya 5.500 atau 6.000, karena draft-nya nanti akan berpengaruh pada alur. Ditakutkan ada kejadian kecelakaan, kandas kapal dan sebagainya,” imbuhnya menjelaskan.
Sejauh ini, KSOP belum menerima laporan kecelakaan maupun kapal kandas di perairan Samarinda. Namun, dampak kemarau tetap terasa pada lalu lintas sungai. Pengurangan volume muatan membuat frekuensi pergerakan kapal ikut mengalami penurunan. “Secara umum lancar, cuma traffic-nya yang mungkin berbeda, berkurang, karena muatan juga terpengaruh,” katanya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki