KALTIMPOST.ID, Anak sulung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Yair Netanyahu, kini tak lagi aman setelah muncul ancaman serius terhadap keselamatannya yang dikaitkan dengan Iran.
Karena adanya ancaman serius tersebut, Yair Netanyahu lantas dievakuasi dari Florida, Amerika Serikat ke Israel.
Dinas intelijen dalam negeri Israel, Shin Bet, mengonfirmasi langsung hal tersebut.
“Terdapat ancaman serius untuk mencelakai Yair Netanyahu. Setelah dilakukan penilaian, diputuskan untuk segera mengevakuasinya bersama tim pengamanan dan membawanya kembali ke Israel,” ucap Shin Bet.
Diduga jadi target pembunuhan Iran
Evakuasi Yair terjadi setelah sebelumnya muncul laporan mengenai dugaan rencana Iran untuk membunuh putra sulung Netanyahu tersebut.
Netanyahu juga sempat mengatakan dalam wawancara dengan Channel 14 bahwa Iran pernah menargetkan salah satu putranya.
“Ada sesuatu yang tak terbayangkan di sini. Iran menandai salah satu putra saya. Iran mencoba membunuhnya,” ucap Netanyahu.
Netanyahu tidak menjelaskan apakah putra yang dimaksud adalah Yair atau putranya yang lain, Avner.
Akan tetapi, Newsmax telah melaporkan bahwa intelijen Israel menemukan dugaan rencana pembunuhan terhadap Yair saat ia tinggal di Florida pada Desember 2025.
Dari laporan tersebut, informasi mengenai dugaan rencana itu lantas disampaikan kepada otoritas AS.
Newsmax mengutip seorang pejabat penegak hukum AS yang menyebut terdapat dugaan operatif Iran berada di wilayah Miami dan melacak pergerakan Yair.
Namun, keterlibatan Iran dalam ancaman yang menyebabkan evakuasi Yair kali ini belum dikonfirmasi oleh Shin Bet.
Badan intelijen Israel tersebut hanya menyatakan bahwa terdapat ancaman signifikan terhadap Yair tanpa menyebut sumbernya.
Tinggal di Florida
Yair Netanyahu telah tinggal di wilayah Florida selama beberapa tahun.
Anak Netanyahu tersebut diketahui kerap didampingi tim keamanan Israel selama berada di AS.
Keberadaan Yair di AS sebelumnya juga menjadi sorotan di Israel.
The Times of Israel melaporkan gaya hidupnya yang disebut mewah serta pengamanan yang dibiayai negara.
Keputusannya untuk tetap tinggal di AS usai serangan 7 Oktober 2023 juga menuai kritik dari sebagian warga Israel, terutama yang menjalani tugas sebagai pasukan cadangan setelah serangan Hamas.
Sejumlah pihak mempertanyakan mengapa putra perdana menteri tetap berada di luar negeri sedangkan banyak warga Israel lainnya kembali untuk menjalankan tugas militer.
Sementara itu, Yair dikenal sebagai aktivis sayap kanan dan podcaster yang aktif di media sosial.
Ia sangat vokal mengenai politik Israel serta kerap menyerang lawan politik ayahnya, para pengkritik pemerintah, dan sejumlah jurnalis.