KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kuliah tak lagi boleh kandas gara-gara isi dompet. Pemprov Kaltim menggelontorkan sekitar Rp 1,3 triliun untuk Program Gratispol Pendidikan. Hingga semester ganjil 2026, sebanyak 105 ribu mahasiswa telah menerima manfaat program tersebut.
Program unggulan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud itu menjadi salah satu strategi pemerintah memperluas akses pendidikan tinggi. Bantuan menyasar mahasiswa di 52 perguruan tinggi di Kaltim. Rinciannya, tujuh perguruan tinggi negeri dan 45 perguruan tinggi swasta.
Rudy mengatakan, pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Kaltim.
Karena itu, pemerintah berupaya memastikan persoalan biaya tidak menjadi tembok bagi anak-anak daerah untuk melanjutkan pendidikan.
“Gratispol Pendidikan merupakan investasi kita untuk masa depan Kaltim. Pemerintah hadir agar anak-anak Kaltim memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi tanpa terkendala persoalan biaya,” tegas Rudy.
Menurutnya, besarnya anggaran yang disiapkan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun SDM. Pembangunan, kata Rudy, tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur. Kualitas manusia juga harus menjadi prioritas.
Baca Juga: Awas Hangus! Mahasiswa Kaltim Wajib Lapor Diri Sebelum 30 September untuk Dapatkan Gratispol
“Yang kita bangun bukan hanya gedung dan infrastruktur, tetapi juga manusia. Karena itu, investasi di bidang pendidikan harus kita lakukan secara berkelanjutan. Kita ingin anak-anak Kaltim memiliki pendidikan yang baik dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global,” ujarnya.
Namun, program tersebut tak lantas dianggap selesai. Pemprov Kaltim masih membuka ruang evaluasi. Mekanisme penyaluran, ketepatan sasaran, hingga dampak bantuan terhadap keberlanjutan kuliah mahasiswa menjadi perhatian.
“Kita ingin Gratispol terus diperbaiki. Bukan hanya dari sisi jumlah penerima, tetapi juga dari mekanisme penyaluran, ketepatan sasaran dan dampaknya terhadap keberlanjutan pendidikan mahasiswa,” katanya.
Kebutuhan mahasiswa selama menjalani perkuliahan juga ikut disorot. Salah satunya usulan bantuan biaya hidup atau living cost bagi mahasiswa kurang mampu. Wacana tersebut akan dibahas dan dikoordinasikan bersama pemerintah kabupaten dan kota.
“Setiap aspirasi yang disampaikan mahasiswa akan kita lihat dan evaluasi. Prinsipnya, pemerintah ingin memastikan anak-anak Kaltim bisa kuliah, menyelesaikan pendidikannya, kemudian kembali memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah,” pungkas Rudy.
UKT Gratis, Mahasiswa Tak Lagi Cemas
Dampak Gratispol turut dirasakan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda. Sebanyak 1.300 mahasiswa di kampus tersebut telah memperoleh manfaat berupa pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Tim Gratispol UINSI Samarinda Raihan mengatakan, bantuan tersebut mendapat respons positif dari mahasiswa. Berdasarkan survei terhadap penerima manfaat, hampir seluruh mahasiswa berharap program tetap dilanjutkan.
Bagi mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, bantuan UKT bukan sekadar keringanan. Program tersebut dinilai menjadi penopang agar mereka tetap bisa melanjutkan kuliah.
Baca Juga: Sungai Kapih Siap-Siap Mati Air Besok, 3 September: 22 Area Terdampak, Cek Mulai Jam Berapa
“Mahasiswa baru yang menerima manfaat khawatir putus kuliah jika tidak lagi mendapatkan bantuan UKT,” ujar Raihan saat silaturahmi Aliansi Dewan Mahasiswa (Dema) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Kalimantan dengan Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji.
Pemprov Kaltim pun diarahkan tidak hanya memperluas penerima Gratispol. Evaluasi dan perbaikan mekanisme menjadi penting agar bantuan benar-benar menyasar mahasiswa yang membutuhkan.
Dengan anggaran mencapai triliunan rupiah, Gratispol Pendidikan diposisikan sebagai investasi jangka panjang Kaltim. Target akhirnya bukan sekadar membuat mahasiswa bertahan hingga wisuda, tetapi melahirkan SDM daerah yang mampu bersaing dan kembali berkontribusi bagi pembangunan Kaltim. (riz)
Editor : Muhammad Rizki