KALTIMPOST.ID, Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran hingga kini masih berlangsung. Bahkan kembali memanas usai pasukan AS melancarkan serangan baru di dekat Selat Hormuz pada Selasa.
Di tengah-tengah konflik yang memanas, Presiden AS Donald Trump mengusulkan perubahan nama Selat Hormuz menjadi “Selat Trump”.
Usulan ini muncul saat Trump bersikeras bahwa AS memegang kendali penuh atas jalur air vital tersebut.
“Sekarang setelah kita menguasainya di bawah kendali AS, haruskah kita mengubah nama Selat Hormuz menjadi SELAT TRUMP??? Seperti Amerika itu sendiri, tempat itu akan menjadi 'lebih panas' daripada sebelumnya!” ujar Trump di jejaring sosial miliknya, Truth Social.
Ia juga menambahkan bahwa nama tersebut akan membuat selat itu menjadi lebih “keren”.
Gedung Putih turut mengunggah peta wilayah Teluk di media sosial dengan nama usulan tersebut, seraya menambahkan: “Nama itu terdengar bagus.”
Trump memang dalam beberapa pekan terakhir berulang kali mengancam akan mengambil alih kedaulatan atas Selat Hormuz.
Bahkan ia sempat mengunggah peta yang menunjukkan jalur perairan tersebut sebagai wilayah baru AS.
Namun, belakangan Trump malah mengisyaratkan bahwa ia tidak bersungguh-sungguh.
“Itu hanya dilontarkan begitu saja,” kata Trump sambil terkekeh.
Meski demikian, sejumlah usulan Trump sebelumnya mengenai perubahan nama geografis yang sempat dianggap sebagai candaan akhirnya benar-benar terwujud.
Pekan lalu, Trump menandatangani perintah untuk mengganti nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika di tengah perang dagang dengan Kanada.
Usulan tersebut sebelumnya juga sempat dilontarkan Trump sebagai candaan.
Trump sebelumnya juga mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika pada hari pertama kembali menjabat sebagai presiden pada Januari 2025.
Namun, Meksiko maupun Kanada tidak menerima perubahan nama tersebut.
Selain wilayah geografis, Trump juga melakukan perubahan nama yang mengaitkan namanya dengan sejumlah tempat. Salah satunya adalah pusat seni Kennedy Center di Washington.