Kalbar dan Kalteng Diguyur Hujan Buatan, Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut hingga 14 September

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 06:43 WIB
Grafis istimewa
Grafis istimewa

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Pemerintah memperpanjang operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan curah hujan di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya kawasan gambut.

Perpanjangan OMC berlangsung mulai 5 hingga 14 September 2026. Operasi ini mendapat dukungan pembiayaan dari Kementerian Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sebelumnya, pelaksanaan OMC di Kalbar berlangsung sejak 22 Agustus hingga 4 September 2026. Sementara di Kalteng, operasi dimulai pada 26 Agustus dan semula dijadwalkan berakhir 5 September.

Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Jakarta, Ini Wilayah yang Masuk Jalur Sebaran

Hujan dari hasil penyemaian awan telah turun di sejumlah wilayah Kalbar. Di antaranya Putussibau, Kabupaten Kubu Raya, hingga Kota Pontianak.

Guyuran hujan tersebut diharapkan meningkatkan kelembapan lahan gambut, menurunkan suhu permukaan, sekaligus mengurangi potensi munculnya titik api baru.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan, penyemaian awan dilakukan dengan memanfaatkan kondisi atmosfer yang mendukung. Data cuaca menjadi salah satu faktor penting agar bahan semai dapat diarahkan ke awan potensial.

"Penyemaian awan dilakukan di area lahan gambut yang terdeteksi hotspot untuk mengurangi titik panas dan memperbaiki kualitas udara akibat pekatnya kabut asap," kata Seto dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026).

Puluhan Ribu Kilogram Garam Disemai

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menjelaskan, pelaksanaan OMC melibatkan pemantauan radar dan dinamika atmosfer secara berkala.

Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Bandara Soekarno-Hatta Ditutup 4 Jam, 33 Pesawat Terdampak

Data tersebut digunakan sebagai dasar bagi armada udara dalam menentukan sasaran penyemaian. Posko operasi untuk wilayah Kalbar berada di Pangkalan Udara Supadio, Kabupaten Kubu Raya.

Selama pelaksanaan OMC di Kalbar, tercatat 27 sorti penerbangan. Sebanyak 24.600 kilogram bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) atau garam murni telah digunakan.

Bahan semai tersebut ditebarkan pada ketinggian sekitar 6.000 hingga 10.000 kaki dengan sasaran awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Sementara itu, operasi di Kalteng telah menghasilkan 10 sorti penerbangan dengan total bahan semai mencapai 8.000 kilogram NaCl.

Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terpantau di sejumlah daerah Kalteng. Di antaranya Murung Raya, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau, dan Barito Selatan.

OMC Jadi Upaya Pencegahan Karhutla

BMKG bersama KLH/BPLH, BNPB, TNI Angkatan Udara, Kementerian Kehutanan, serta pemerintah daerah terus melakukan pemantauan kondisi atmosfer selama operasi berlangsung.

Baca Juga: Ratusan Siswa Keracunan MBG, BGN Pecat Kepala SPPG Begadung II Nganjuk

Pergerakan awan, arah angin dan kelembapan udara menjadi sejumlah parameter yang diperhatikan untuk menentukan lokasi penyemaian.

Pemerintah berharap tambahan curah hujan dapat membantu membasahi lahan gambut yang kering. Kondisi tersebut penting untuk mengurangi risiko kebakaran sekaligus menekan penyebaran asap.

Tri Handoko Seto menilai operasi modifikasi cuaca menjadi bagian dari strategi pencegahan karhutla. Penanganan tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah meluas, tetapi juga melalui upaya memperbaiki kondisi lingkungan sebelum potensi api berkembang.

Dengan diperpanjangnya OMC hingga 14 September, pemerintah akan terus mengevaluasi kondisi cuaca dan kebutuhan di lapangan. Pemantauan dilakukan untuk memastikan penyemaian awan diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan tambahan hujan.

Editor : Uways Alqadrie
Karhutla Kalimantan Timur karhutla kalteng OMC di Kalimantan Barat hujan di Kalbar karhutla Kalbar