Berusia 41 Tahun, Ini Kemampuan Perang Kapal Induk Pertama Indonesia Giuseppe Garibaldi

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 15:24 WIB
Grafis istimewa
Grafis istimewa

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Perjalanan ITS Giuseppe Garibaldi menuju Indonesia memasuki tahapan baru. Kapal induk milik Italia tersebut dijadwalkan berhenti di Kolombo, Sri Lanka, sebelum meneruskan pelayaran menuju Jakarta.

Kapal yang diproyeksikan memperkuat kemampuan pertahanan laut Indonesia itu sebelumnya melintasi kawasan Laut Arab. Setelah singgah di Kolombo, Garibaldi akan melanjutkan perjalanan menuju perairan Indonesia.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan, persinggahan di Kolombo menjadi bagian dari rute perjalanan kapal menuju Indonesia.

Baca Juga: Daftar Puluhan Jenderal Pol Dimutasi Kapolri Agustus 2026, Ini Jabatan Baru yang Diemban

"Garibaldi ini sekarang akan sandar di Kolombo dan akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta," kata Muhammad Ali di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2026).

Selama masih berada dalam perjalanan menuju Indonesia, Garibaldi mendapat pengawalan dari dua kapal perang Angkatan Laut Italia. Pengawalan tersebut dilakukan hingga kapal memasuki kawasan perairan Indonesia.

Setelah berada di wilayah laut Indonesia, giliran TNI AL yang mengambil peran dalam pengawalan. Armada perang dan unsur udara disiapkan untuk menyambut kedatangan kapal induk tersebut.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama TNI Tunggul menyebut sedikitnya dua KRI jenis frigat akan dikerahkan. Pengawalan juga diperkuat unsur udara dari Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal).

Selain melakukan pengamanan perjalanan, unsur udara TNI AL juga disiapkan untuk mendukung proses penyambutan. Salah satunya melalui upaya on board ke Garibaldi ketika kapal memasuki wilayah Indonesia.

"Akan ada pengawalan minimal dua KRI Frigate Indonesia dan pesawat udara Puspenerbal pada saat memasuki perairan Indonesia," ujar Tunggul, Selasa (8/9/2026).

Apabila seluruh perjalanan berjalan sesuai rencana, kapal induk tersebut dijadwalkan mencapai Jakarta pada 17 September 2026.

Baca Juga: Krakatau 1883 Mengamuk di Selat Sunda: Tsunami Tewaskan 36 Ribu Orang, Melahirkan Anak Krakatau

Kedatangan Garibaldi menjadi bagian dari rencana penguatan kemampuan operasional TNI AL. Kapal tersebut nantinya tidak hanya diproyeksikan untuk mendukung kepentingan pertahanan, tetapi juga dapat digunakan dalam sejumlah misi strategis.

Salah satu kemampuan yang mendapat perhatian adalah dukungan terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Unsur udara yang dapat dioperasikan dari kapal menjadi salah satu kemampuan yang berpotensi dimanfaatkan dalam misi tersebut.

Bukan Kapal Baru

Giuseppe Garibaldi bukan kapal yang baru dibangun. Kapal ini mulai dibuat pada 1981 dan diluncurkan pada 11 Juni 1983. Kapal mulai berlayar pada 30 September 1985 sebelum akhirnya dipensiunkan Angkatan Laut Italia pada 1 Oktober 2024.

Kapal memiliki panjang 180,2 meter dan lebar 33,4 meter. Bobot benaman mencapai 13.850 ton dalam kondisi muatan penuh.

Garibaldi mampu mencapai kecepatan lebih dari 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam. Jangkauan operasinya mencapai sekitar 7.000 mil laut pada kecepatan jelajah tertentu.

Untuk mengoperasikannya, kapal dapat membawa hingga 830 personel. Sementara kapasitas armada udaranya mencapai 18 unit pesawat atau helikopter, bergantung pada konfigurasi yang digunakan.

Baca Juga: Genap 17 Tahun, Warga RI Bakal Dapat Rekening Bank dan Saldo Rp50 Ribu dari Pemerintah

Sistem penggeraknya mengandalkan empat turbin gas General Electric/Avio LM2500 dengan total daya sekitar 60,4 MW atau 81.000 horsepower.

Pernah Operasikan Harrier

Salah satu ciri penting Garibaldi adalah kemampuannya mengoperasikan pesawat dengan karakter short take-off and vertical landing (STOVL).

Dalam masa operasionalnya bersama Angkatan Laut Italia, kapal ini dapat membawa AV-8B Harrier II serta berbagai jenis helikopter.

Garibaldi juga dilengkapi sejumlah sistem pertahanan, antara lain peluncur rudal permukaan-ke-udara Mk.29, sistem OTO Melara DARDO 40L70, tabung torpedo serta perangkat perang elektronik dan sistem umpan untuk menghadapi ancaman torpedo.

Kapal tersebut sebelumnya terlibat dalam sejumlah operasi internasional, termasuk misi di Kosovo, Afganistan dan Libya.

Berapa Nilai Garibaldi?

Nilai pembangunan Giuseppe Garibaldi saat dibuat tercatat sekitar 428 miliar lira Italia pada 1981. Jika dikonversikan berdasarkan nilai yang tercantum dalam referensi yang digunakan, nilainya setara sekitar €903,63 juta dalam nilai 2019.

Namun, angka tersebut bukan harga yang dibayarkan Indonesia. Dalam skema pengalihan kepada Indonesia, Garibaldi direncanakan diberikan melalui hibah. Sementara biaya yang disebut terkait proses pengiriman kapal mencapai sekitar €54 juta.

Baca Juga: 1.730 Bencana Terjadi di Indonesia hingga 7 September 2026, 111 Ribu Rumah Rusak

Dengan demikian, penyebutan €54 juta sebagai harga pembelian kapal tidak tepat. Angka tersebut merujuk pada biaya pengiriman, bukan harga jual Garibaldi kepada Indonesia.

Jika sesuai jadwal, perjalanan panjang kapal yang dibangun lebih dari empat dekade lalu itu akan berakhir di Jakarta pada 17 September 2026.

Editor : Uways Alqadrie
kapal induk pertama Indonesia kapal induk Indonesia Kapal Induk Giuseppe Garibaldi tni angkatan laut