Kemarau Panjang Bikin Panen Anjlok? Petani Anggana Justru Melejit Lewat Agen Hayati

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 15:53 WIB
Ketua Gapoktan Mandiri Anggana, Kukar, Lasman.
Ketua Gapoktan Mandiri Anggana, Kukar, Lasman.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kekeringan biasanya menjadi momok bagi petani padi. Namun, kondisi berbeda terlihat di lahan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mandiri, Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana. Meski air terbatas, produktivitas padi justru meningkat 44,8 persen. Ketua Gapoktan Mandiri Anggana Lasman mengatakan kondisi tersebut tidak lepas dari penerapan sistem low external input sustainable agriculture (LEISA).

“Ini dalam keadaan enggak ada air, kemarau, tapi tetap produktivitas kami tetap meningkat. Karena kami kemarin sudah menerapkan yaitu sistem LEISA,” ujarnya. Menurut Lasman, sistem tersebut mengandalkan agen hayati yang tetap bekerja di dalam tanah meski kondisi sedang kering. Mikroorganisme membantu mengurai sisa pupuk dan unsur hara yang berada di dalam tanah.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan penggunaan pupuk kimia. Menurutnya, ketika kemarau, pupuk kimia lebih mudah menguap akibat panas sehingga tidak optimal diserap tanaman. “Kalau kimiawi itu kan kalau musim kemarau gini dia akan menguap kena uap panas matahari. Jadi, tidak akan terserap oleh tanaman sendiri,” jelas pria kelahiran 1967 itu.

Baca Juga: Air Mahakam Asin! IPA Sungai Kapih Samarinda Buka Terminal Air Gratis 24 Jam

Penerapan LEISA baru dilakukan sekitar tiga bulan terakhir dan menjadi panen perdana dengan metode tersebut. Benih padi terlebih dahulu direndam menggunakan agen hayati sebelum disemai. Lasman mengatakan petani tetap menggunakan pupuk kimia, namun porsinya dikurangi. Agen hayati dan pupuk kandang menjadi bagian dari pola budidaya.

Penggunaan agen hayati disebut dapat mengurangi pupuk kimia sekitar 30 persen. Varietas yang ditanam dalam demplot tersebut adalah Inpari 32. Lasman menyebut varietas tersebut sesuai dengan kondisi wilayah karena relatif tahan hama dan kekeringan. “Dia agak tahan hama dan tahan kekeringan,” tegasnya.

Demplot seluas sembilan hektare tersebut dikerjakan sembilan petani, masing-masing satu hektare. Ke depan, Lasman memastikan metode LEISA akan diteruskan. Ia juga berharap metode tersebut dapat direplikasi kelompok tani lainnya. “Saya berharap kepada kelompok-kelompok lain baik itu di kecamatan-kecamatan lain, ayolah kita memakai sistem LEISA, sudah terbukti meningkatkan produktivitas padi,” pungkasnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Pertanian LEISA Anggana Agen Hayati Pertanian Panen Padi Kemarau Kukar Gapoktan Mandiri Sidomulyo Pertanian Kukar