KALTIMPOST.ID- Saat kemarau panjang membuat sawah retak di banyak daerah, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) justru menemukan "lahan baru". Bukan di darat, tapi di atas air Danau Semayang. Benih padi ditebar langsung ke danau. Lima belas hari kemudian, tunas mulai muncul.
Cara yang bagi orang luar terlihat seperti "membuang padi ke air", tapi bagi warga Semayang ini adalah kearifan lokal yang sudah bertahan puluhan tahun. Pemkab Kukar memilih mendukung penuh. "Kami tugasnya mendukung apa yang dilakukan warga masyarakat di sana. Ini kearifan lokal," kata Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri, saat ditemui di Tenggarong, Minggu (6/9).
Dari Nelayan Jadi Petani, karena Danau Surut
Danau Semayang memang unik. Saat kemarau, airnya tidak pernah kering total, bagian dangkal menyusut dan terbuka, sementara alur dalam tetap berair. Kondisi inilah yang dimanfaatkan warga. Tradisi ini bukan baru. Warga Semayang terakhir menanam dengan cara ini pada 2016–2017, dan siklusnya berulang lagi tahun ini, tepat 10 tahun kemudian. "90 persen warga masyarakat Semayang yang dulunya nelayan, sekarang bertani. Memanfaatkan kondisi alam hari ini," ujar Aulia.
Pemkab masuk bukan dengan memaksakan metode baru, tapi dengan memperkuat apa yang sudah berjalan. Tahap awal, Pemkab menyalurkan 500 kilogram benih. Habis, warga minta lagi 500 kilogram. Total lebih dari 1 ton benih sudah ditebar untuk membuka sekitar 100 hektare areal tanam baru. "Kami turun ke lapangan. Didampingi BRMP dan Dinas Pertanian. Sampai di sana kami diajak warga menanam dengan cara mereka. Ditebar di atas air, seolah-olah menabur di sungai. Alhamdulillah, 500 kg pertama itu sudah tumbuh," kata Aulia.
Tabela Dar, Ditabur Tinggal Tunggu Panen
Metode ini disebut Tabela Dar atau Tanam Benih Langsung dalam Air. Prinsipnya sederhana: benih bernas tenggelam ke dasar saat air masih ada. Saat muka air surut, benih yang mengendap langsung tumbuh di tanah berlumpur yang kaya unsur hara. "Biayanya sangat murah. Tidak ada olahan, tidak ada treatment khusus. Unsur hara di danau sudah bagus. Hanya ditabur, tinggal tunggu panen," jelas Aulia.
Varietas yang dipakai Inpari 32, dengan umur panen 110 hari. Artinya, pemkab dan warga sedang mengejar waktu panen harus selesai sebelum air danau naik lagi. "Hitungannya 3 bulan cukup untuk panen," kata Aulia.
19 Pompa Air Jaga Sawah Daratan
Dukungan Pemkab Kukar tidak berhenti di Semayang. Untuk menjaga sawah di daratan tetap hidup di tengah kemarau, Aulia dan tim terpadu, gabungan Dinas Pertanian, Sumber Daya Air (SDA), BPBD, dan Pemadam Kebakaran (Damkar), bergerak cepat mengidentifikasi sumber-sumber air.
"Setelah identifikasi, kami ajukan permohonan pompa ke Kementerian Pertanian. Komunikasi dengan Pak Budi Satrio cepat direspons. Awalnya 25 pompa. Sekarang 19 pompa disetujui. Hari ini 11 pompa sudah datang," kata Aulia. Sebanyak 19 pompa itu langsung disalurkan ke kelompok tani, dengan target jelas: sawah tidak boleh gagal panen karena kekeringan. Selain itu, Pemkab juga fokus mencegah kebakaran hutan dan lahan. "Ini jadi titik konsentrasi kita di musim kemarau panjang ini," tegasnya.
Cadangan Pangan Kukar
Dengan dua strategi berjalan bersamaan, Aulia optimistis ketersediaan beras Kukar aman selama kemarau. "Kami dapat backup. Ada sawah reguler yang kita bantu dengan pompa. Ada juga sawah baru dari danau yang kita dukung lewat kearifan lokal," ujarnya.
Permohonan serupa kini datang dari Desa Melintang, di mana warga juga ingin menebar benih mengikuti pola Semayang. "Ini tidak bisa dilakukan setiap tahun. Tergantung siklus danau. Tapi kalau terjadi, tugas kami mendukung," kata Aulia.
Ia mengaku awalnya sempat bertanya-tanya saat pertama melihat metode tabur di danau. "Seumur-umur mendampingi petani, tidak pernah lihat metode seperti ini. Tapi faktanya, padi yang kita kirim setengah bulan lalu itu tumbuh. Saya masih penasaran dan ingin kembali lihat," ucapnya.
Bagi Aulia, krisis iklim tidak bisa dilawan dengan cara lama saja. Harus ada sinergi antara bantuan pusat, kerja Pemkab, dan ilmu yang sudah hidup di masyarakat. "Ini cara Kukar menjaga kedaulatan pangan. Murah, cepat, dan berakar dari masyarakatnya sendiri," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki