KALTIMPOST.ID-Mahakam Ulu (Mahulu) mendapat kuota Pertalite sebesar 10.975 kiloliter (kl) sepanjang 2026. Namun, keterbatasan BBM yang terjadi di sejumlah wilayah hulu belakangan ini disebut bukan karena kuota tidak tersedia, melainkan terkendala distribusi.
Analis Kebijakan Ahli Muda Bagian Ekonomi, Pembangunan dan Sumber Daya Alam (Ekobang SDA) Mahulu Indira Anggun mengatakan, pemkab telah melakukan klarifikasi bersama Pertamina dan Agen Premium dan Minyak Solar (APMS).
“Stok BBM di wilayah hulu masih tersedia, tetapi distribusinya belum optimal karena keterbatasan armada angkutan dan kondisi muka air sungai yang surut,” kata Anggun, Rabu (10/9).
Berdasarkan informasi yang diterima pemkab, stok per 8 September tercatat sekitar 60 kl di Long Pahangai dan 28 kl di Long Apari. Pembelian di kedua wilayah tersebut sementara dibatasi untuk menjaga ketersediaan stok.
Baca Juga: Polda Kaltim Gandeng Paguyuban Demak Kalijogo Balikpapan Jaga Kamtibmas, CCTV Jadi Perhatian
Kondisi geografis Mahulu membuat transportasi sungai memegang peranan penting dalam distribusi BBM hingga kawasan hulu. Ketika muka air surut, pengangkutan menjadi terbatas meski pasokan tersedia.
“Jadi, kondisi keterbatasan yang terjadi saat ini lebih berkaitan dengan kelancaran distribusi dan keterbatasan angkutan, bukan berarti kuota pertalite Mahulu tahun 2026 tidak tersedia,” jelasnya.
Kuota tersebut tercantum dalam surat BPH Migas Nomor T-177/MG.05/BPH/2026 tertanggal 19 Februari 2026. Mahulu memperoleh kuota Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite 10.975 kl dan Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar 2.540 kl.
Kuota merupakan gabungan untuk seluruh konsumen pengguna di Mahulu dan dapat berubah berdasarkan evaluasi penyaluran secara berkala.
Namun, pemkab masih mengonfirmasi realisasi penyalurannya kepada Pertamina. Sebab, terdapat perbedaan antara angka dalam dokumen kuota kabupaten dan rincian per SPBU yang diterima pemkab. “Untuk total kuota BBM Mahulu saat ini kami masih konfirmasi ke Pertamina,” ujarnya.
Pemkab juga masih mengklarifikasi penyebab antrean BBM yang sempat terjadi di Long Bagun. Pendalaman dilakukan untuk mengetahui apakah antrean berkaitan dengan kuota, realisasi penyaluran, peningkatan kebutuhan masyarakat, atau faktor lainnya.
Baca Juga: Beli Cash, Rumah Ratusan Konsumen Balikpapan Regency Belum Juga Dibangun, Kini Bakal ke Jalur Hukum
Dampak persoalan distribusi paling terasa pada harga di tingkat pengecer. Anggun mengatakan harga pertalite di SPBU/APMS Rp 10 ribu per liter. Namun, di Long Apari harga eceran telah mencapai sekitar Rp 30 ribu per liter. “Untuk harga SPBU Rp 10.000. Tapi di Long Apari eceran sudah di posisi Rp 30.000 per liter,” ungkapnya.
Saat ini Mahulu memiliki lima SPBU/APMS, masing-masing di Long Hubung, dua titik di Long Bagun, Long Pahangai, dan Long Apari.
Seiring pertumbuhan jumlah kendaraan dan kebutuhan BBM, penambahan sarana penyalur menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan, termasuk melalui badan usaha milik daerah (BUMD). Namun, belum ada keputusan resmi mengenai rencana tersebut.
Menurut Anggun, penambahan sarana penyalur harus dikaji bersama Pertamina dan pihak terkait, mulai kebutuhan, lokasi, kelayakan hingga kuota.
Dengan ketergantungan wilayah hulu terhadap transportasi sungai, kelancaran jalur distribusi menjadi faktor penting. Sebab, besarnya kuota belum otomatis menjamin BBM sampai ke masyarakat apabila pengangkutan menuju wilayah pedalaman terganggu.
Editor : Romdani.