KALTIMPOST.ID-Penambahan lima SPBU penyalur pertalite di Balikpapan dinilai menjadi langkah awal untuk memecah antrean. Namun, bagi pelaku usaha SPBU, kebijakan tersebut belum cukup menjadi solusi jangka panjang.
Ketua DPC Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Balikpapan Christofel EG mengatakan, kondisi antrean pertalite saat ini bukan sepenuhnya berada dalam kendali pengusaha SPBU. Sebab, ketersediaan BBM bersubsidi dan kuotanya merupakan kebijakan pemerintah pusat.
Karena itu, Hiswana Migas menyambut baik rencana Pemkot Balikpapan menambah lima titik penyalur pertalite. Pengusaha SPBU menyatakan siap menjalankan penugasan tersebut.
“Jujur kondisi ini memang di luar jangkauan kami, bahkan juga di luar jangkauan pemkot ya, karena terkait barang subsidi itu ditentukan oleh pemerintah pusat,” kata Christofel.
Baca Juga: Polda Kaltim Gandeng Paguyuban Demak Kalijogo Balikpapan Jaga Kamtibmas, CCTV Jadi Perhatian
Namun, ia berharap kebijakan tersebut tidak berhenti pada penambahan lima SPBU. Menurutnya, pola penyaluran seperti 2022–2023 lebih ideal karena seluruh SPBU dapat melayani pertalite, baik untuk sepeda motor maupun mobil.
“Harapan kami kuota barang-barang bahan bakar bersubsidi itu dapat dikembalikan lagi seperti tahun 2022 atau 2023, di mana semua SPBU bisa menampung Pertalite baik motor, baik mobil,” ujarnya.
Christofel menilai penyebaran penyaluran ke seluruh SPBU akan membuat antrean tidak terkonsentrasi pada titik tertentu. Jika seluruh SPBU kembali melayani Pertalite, masyarakat tidak perlu mendatangi lokasi tertentu hanya untuk mendapatkan BBM bersubsidi.
“Memang seyogianya sih seharusnya semua SPBU menjual. Jadi bukan hanya menambah lima atau enam. Jadi ada 14, ada 15. Semua menjual,” tegasnya.
Ia memperkirakan, apabila seluruh SPBU kembali menjual pertalite, antrean mungkin masih terjadi pada beberapa hari pertama. Namun, setelah distribusi kebutuhan masyarakat tersebar, tekanan antrean diyakini berangsur turun. (rd)
Editor : Romdani.