KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Penyerapan gabah petani lokal Kalimantan Timur oleh Bulog terus dikebut. Hingga saat ini, sekitar 19.000 ton gabah telah masuk ke Bulog dari target 23.500 ton sepanjang tahun. Hal itu disampaikan Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kalimantan Timur dan Utara (Kaltim-Kaltara) Musazdin Said, capaiannya setara sekitar 80 persen dari target.
Meski demikian, target penyerapan masih menghadapi tantangan. Said mengatakan kondisi kemarau dapat mengganggu produksi petani yang sebelumnya diproyeksikan memasuki panen raya pada akhir September. “Pasti berdampak karena kemarin kita proyeksinya sebenarnya akan ada panen raya di akhir September ini tapi kelihatannya kalau banyak padi yang kekurangan air ini akan menjadi gagal panen atau puso,” katanya.
Kondisi tersebut membuat Bulog belum dapat memastikan apakah target penyerapan bisa mencapai 100 persen hingga akhir tahun. “Target kita mungkin akan turun, enggak 100 persen. Kita belum bisa prediksi lagi,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Bulog tetap diminta memetakan wilayah yang berpotensi panen berikutnya untuk memastikan penyerapan dapat berlanjut. Bulog membeli gabah kering panen petani dengan harga pokok pembelian pemerintah Rp6.500 per kilogram. Gabah kemudian dikeringkan hingga kadar air mencapai 14 persen sebelum disimpan sebagai cadangan pangan.
Dari sisi stok, Bulog Kaltim-Kaltara saat ini mengelola sekitar 15.100 ton cadangan beras pemerintah yang tersebar di gudang Kaltim dan Kaltara. Stok tersebut digunakan untuk kebutuhan bantuan pangan, beras SPHP untuk menjaga inflasi serta kebutuhan cadangan pangan pemerintah daerah.
Namun, kebutuhan Kaltim belum sepenuhnya dapat dipenuhi produksi lokal. Bulog masih mendatangkan beras dari Jawa dan Sulawesi untuk pemerataan stok antardaerah. “Kita memang masih datangkan dari Jawa dan dari Sulawesi seperti itu tapi antar Bulog. Jadi pemerataan stok,” katanya.
Dijelaskan Said, keterbatasan infrastruktur gudang juga menjadi salah satu tantangan ketika penyerapan meningkat. Oleh sebab itu, stok perlu didistribusikan ke wilayah yang membutuhkan. (riz)
Editor : Muhammad Rizki