KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara memunculkan beragam spekulasi. Sejumlah ekonom menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan penyegaran kabinet, tetapi juga dinamika di internal Kementerian Keuangan.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudistira menilai persoalan koordinasi di lingkungan Kementerian Keuangan menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan.
Menurut dia, terdapat perbedaan pandangan dalam sejumlah kebijakan, termasuk terkait pergantian pejabat eselon II serta kebijakan penahanan restitusi pajak.
Baca Juga: Berdarah Nias, Suahasil Nazara Kini Jadi Menkeu Prabowo: Putra Mantan Bupati Nias
Bhima menyebut kebijakan tersebut pada awalnya berkaitan dengan pemeriksaan sektor sumber daya alam. Namun, dalam pelaksanaannya, penahanan restitusi disebut meluas ke berbagai sektor usaha.
Kondisi tersebut dinilai menimbulkan ketidakpuasan di kalangan pelaku usaha. Bhima juga menyebut adanya perbedaan pandangan antara Purbaya dan pejabat di lingkungan Kemenkeu terkait persoalan tersebut.
Selain persoalan internal, Bhima menyoroti hubungan pemerintah dengan Danantara terkait setoran dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Ia menyebut terdapat persoalan menyangkut dividen sekitar Rp120 triliun yang disetorkan Danantara kepada Kementerian Keuangan. Persoalan tersebut, menurut Bhima, turut memunculkan protes dari pihak Danantara.
Baca Juga: Daftar Harga BBM Hari Ini 14 September 2026: Pertamina, Shell, Vivo dan BP Lengkap
Bhima juga menilai pola komunikasi dan gaya kepemimpinan Purbaya menjadi bagian dari evaluasi. Menurutnya, sejumlah persoalan koordinasi yang berlangsung membuat pemerintah akhirnya mengambil keputusan untuk mengganti posisi Menteri Keuangan.
Sementara itu, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad memiliki pandangan berbeda.
Tauhid melihat pergantian Purbaya dengan Suahasil lebih sebagai langkah penyegaran pemerintahan. Kehadiran menteri baru dinilai dapat membawa perspektif berbeda dalam menghadapi tantangan fiskal.
Menurut Tauhid, pemerintah membutuhkan sosok yang mampu memperkuat penerimaan negara sekaligus meningkatkan efektivitas belanja pemerintah.
Dua persoalan tersebut dinilai penting karena pemerintah harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengendalian defisit anggaran.
Baca Juga: Suahasil Nazara, Menkeu Baru Pengganti Purbaya: Profil, Asal, Istri, Pendidikan hingga Harta Rp138 M
Suahasil dinilai memiliki modal pengalaman karena bukan figur baru di lingkungan Kementerian Keuangan. Ia telah lama berada di pemerintahan dan pernah menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak era Sri Mulyani.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi keuntungan karena Suahasil sudah memahami mekanisme kerja, struktur organisasi, serta berbagai persoalan fiskal dari dalam Kementerian Keuangan.
Tauhid menilai pengalaman tersebut dapat menjadi modal bagi Suahasil untuk menjalankan agenda pemerintah. Namun, tantangan besar tetap menanti, terutama dalam meningkatkan pendapatan negara, memperbaiki kualitas belanja, menjaga defisit, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Editor : Uways Alqadrie