Gejolak Timur Tengah Bayangi Ekonomi Indonesia, Harga Minyak dan Arus Modal Jadi Risiko

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 13:32 WIB
Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto
Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ketidakpastian ekonomi global kian membayangi laju perekonomian nasional hingga pengujung 2026. Eskalasi konflik Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus memperbesar risiko gangguan jalur rantai pasok strategis.

Kondisi ini diperberat proyeksi perlambatan ekonomi dunia yang diperkirakan hanya menyentuh level 3,0 persen pada 2026, merosot dari 3,5 persen pada 2025. Bank sentral mencermati pergeseran tersebut karena berisiko menekan pasar keuangan di negara-negara berkembang.

Baca Juga: IHSG Menguat 4,64 Persen, Transaksi Harian Pasar Saham Meningkat

Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim Bayuadi Hardiyanto menegaskan pentingnya langkah antisipasi terpadu.

"Perubahan kondisi global ini perlu diantisipasi melalui penguatan fundamental ekonomi dan sinergi kebijakan, sehingga dampaknya terhadap perekonomian domestik dapat dikelola," tegas Bayuadi.

Selain tensi geopolitik, keperkasaan dolar Amerika Serikat terhadap mata uang global kian mempersempit ruang gerak moneter. Situasi tersebut memicu peningkatan volatilitas arus modal asing serta menambah tekanan terhadap stabilitas nilai tukar.

Baca Juga: Bisnis Pegadaian Tumbuh 19 Persen, Digitalisasi Buka Ruang Kolaborasi

Dari sisi perdagangan internasional, perlambatan ekonomi sejumlah negara mitra dagang utama turut memperberat tantangan ekspor. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan melemah ke level 4,6 persen dari sebelumnya 5,0 persen, sementara kawasan Eropa dan Jepang sama-sama diproyeksikan tertahan di angka 0,7 persen.

Meski demikian, dinamika ekonomi dunia bergerak tidak seragam di berbagai kawasan. Amerika Serikat diproyeksikan masih mampu tumbuh 2,3 persen, sedangkan India mencatat pertumbuhan yang sangat agresif di angka 6,7 persen.

Bagi Indonesia, gelombang tekanan eksternal ini mengancam kinerja ekspor dan membatasi akselerasi pertumbuhan. Namun, Bank Indonesia menilai fondasi ekonomi nasional masih cukup kokoh untuk menahan guncangan global.

Ketahanan tersebut tecermin dari realisasi pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2026 yang tercatat 5,29 persen secara tahunan (yoy), kendati melandai dari triwulan sebelumnya di angka 5,61 persen. BI optimistis perekonomian Indonesia sepanjang 2026 tetap terjaga dalam rentang 4,9 hingga 5,7 persen.

Bayuadi mengingatkan bahwa daya beli masyarakat dan konsumsi dalam negeri merupakan benteng pertahanan paling krusial saat ini. "Ketahanan permintaan domestik menjadi salah satu modal penting ketika kondisi eksternal belum sepenuhnya mendukung," pungkasnya. (*)

Editor : Duito Susanto
bayuadi hardiyanto ekonomi indonesia harga minyak dunia konflik timur tengah BI Kaltim