Hotspot Turun Drastis tapi Kabut Asap Makin Pekat, Bikin Kualitas Udara Kaltim Memburuk

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 18:05 WIB
TERDAMPAK: Kabut asap menyelimuti kawasan Sangatta, Kutai Timur, Kamis (17/9). Kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Kabut asap menyelimuti kawasan Sangatta, Kutai Timur, Kamis (17/9). 

KALTIMPOST.ID-Kualitas udara di sejumlah wilayah Kaltim mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.

Kabut asap yang semakin pekat tidak seluruhnya berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) baru, tetapi juga akumulasi asap kebakaran sebelumnya yang turun mendekati permukaan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan, penurunan kualitas udara terpantau melalui sejumlah sensor milik pemerintah maupun pihak lainnya.

Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Samarinda. Sejumlah daerah lain di Kaltim bahkan wilayah Kalimantan juga mengalami penurunan kualitas udara.

“Memang kita melihat bahwa kondisi udara di Samarinda dan beberapa daerah lainnya terus menurun. Kalau melihat data dari KemenLH dan BMKG, hampir seluruh wilayah Kalimantan kondisinya kurang bagus, kecuali beberapa wilayah di bagian utara,” kata Buyung kepada Kaltim Post, Kamis (17/9).

Baca Juga: Standar Layanan BDK Balikpapan Dievaluasi, Pusdiklat: Harus Diuji dari Pengalaman Pengguna

Berdasarkan informasi BMKG yang diterima BPBD, kata dia, lapisan inversi terjadi di atas wilayah Kaltim pada periode 15–19 September.

Fenomena atmosfer tersebut membuat asap yang sebelumnya berada di lapisan atas tertahan atau turun mendekati permukaan.

Kondisi itu menyebabkan kabut asap terlihat semakin pekat. Karena itu, menurut Buyung, memburuknya kondisi udara tidak serta-merta menunjukkan adanya peningkatan kebakaran baru.

“Asap-asap kebakaran sebelumnya yang sudah sebulan lebih, kalau tidak mendapatkan hujan, sebenarnya masih ada di atas. Akibat adanya awan yang menekan ke bawah, asap tersebut turun,” jelasnya.

Kondisi diperkirakan dapat berangsur membaik ketika lapisan inversi terbuka dan sinar matahari kembali memanaskan permukaan.

Asap yang berada dekat permukaan dapat terdorong naik sehingga jarak pandang berangsur membaik.

Namun, kondisi serupa berpotensi kembali terjadi ketika lapisan atmosfer menahan asap dan tidak disertai hujan yang cukup. Kebakaran baru juga berpotensi menambah konsentrasi asap.

Baca Juga: BDK Balikpapan Buka Evaluasi Layanan ke Publik, Masukan Pengguna Bakal Jadi Dasar Perbaikan

“Kalau lapisan inversinya terbuka dan sinar matahari masuk, asap bisa naik lagi. Tetapi kalau ada kebakaran baru, itu akan menambah lagi asap yang ada di atmosfer,” ujarnya.

Di tengah kabut asap yang masih terasa, BPBD mencatat jumlah hotspot menunjukkan tren menurun.

Berdasarkan data yang disampaikan Buyung, terdapat 1.157 hotspot pada 14 September dan 1.129 titik pada 15 September.

Jumlahnya turun menjadi 319 hotspot pada 16 September. Sementara hingga sekitar pukul 16.00 Wita, Kamis (17/9), terpantau 58 titik. Angka terakhir masih bersifat sementara karena pemantauan terus diperbarui.

Menurut Buyung, penurunan hotspot juga berkaitan dengan berkurangnya intensitas panas permukaan saat atmosfer tertutup awan.

Meski titik panas berkurang, dampak asap masih dirasakan karena polutan terakumulasi lebih dekat dengan permukaan.

Kondisi tersebut terlihat dari Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Berdasarkan pemantauan yang disampaikan BPBD, Samarinda berada pada kategori tidak sehat dengan indeks sekitar 170.

Bontang juga tercatat dalam kategori tidak sehat. Sementara Penajam Paser Utara (PPU) dan Balikpapan berada pada kategori sedang.

Baca Juga: LAPSUS: Antre Pertalite Masih Mengular, Dua SPBU Baru Bakal Hadir di Balikpapan, Ini Lokasinya

Perbedaan antara tren hotspot dan kualitas udara tersebut menjadi perhatian. Penurunan jumlah titik panas belum otomatis membuat udara segera membaik karena asap dari kebakaran sebelumnya masih dapat bertahan dan berpindah mengikuti dinamika atmosfer.

BPBD Kaltim terus memantau perkembangan hotspot, kualitas udara, cuaca, dan pergerakan asap. Pemantauan diperlukan karena kondisi dapat berubah dalam waktu relatif cepat, baik akibat dinamika atmosfer maupun munculnya kebakaran baru. (rd)

Editor : Romdani.
karhutla Kaltim kabut asap penajam paser utara kebakaran hutan dan lahan Kutai Barat