Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi kelompok paling rentan akibat keterbatasan permodalan untuk membeli pembangkit mandiri.
Berbeda dengan korporasi besar, sektor UMKM tidak memiliki bantalan finansial yang memadai untuk menanggung kerugian mendadak.
Wakil Ketua Umum V Apindo DPP Kaltim Muhammad Reza Fadhillah menegaskan bahwa setrum merupakan urat nadi seluruh mata rantai ekonomi.
Baca Juga: Dugaan Tukar Akun Kelas Pintar Siswa SD di Balikpapan, Kuasa Hukum Siapkan Langkah Hukum
Mulai lini produksi, distribusi barang, hingga sistem transaksi kasir di tingkat ritel sangat bergantung pada kontinuitas daya listrik.
“Pemadaman listrik itu bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan persoalan kepastian operasional, biaya produksi dan keberlangsungan usaha,” ujar Reza secara tegas.
Dia memerinci sejumlah sektor yang paling babak belur akibat byar pet ini antara lain usaha makanan dan minuman, binatu atau laundry, bengkel, percetakan, hingga pengolahan hasil perikanan. Sektor-sektor ini rentan mengalami kerusakan material jika pendingin maupun mesin produksi mendadak mati total.
“Kalau listrik padam, sebagian proses produksi terpaksa berhenti, pelayanan tertunda, dan dalam kondisi tertentu ada risiko bahan baku atau produk mengalami kerusakan,” kata Reza menambahkan.
Bagi pengusaha kecil, opsi menyewa mesin genset bukanlah jalan keluar yang mudah karena memicu pembengkakan biaya bahan bakar minyak. Pada saat yang sama, beban tetap seperti gaji karyawan dan sewa gerai tidak bisa dipotong begitu saja.
“Perusahaan besar mungkin punya fasilitas cadangan listrik, sedangkan pelaku usaha mikro dan kecil belum tentu memiliki kemampuan finansial untuk menyediakan genset dan menanggung biaya operasional tambahannya,” jelasnya. (rd)
Editor : Romdani.