KALTIMPOST.ID-Wakil Ketua V Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim Muhammad Reza Fadhillah menilai bahwa kerugian terbesar pelaku usaha tidak hanya terletak pada pengeluaran ekstra genset, melainkan lenyapnya momentum perputaran omzet harian.
Warung makan dan kafe, misalnya, berisiko kehilangan pelanggan secara masif apabila pemadaman terjadi pada jam sibuk makan siang atau malam hari.
“Persoalannya bukan hanya pengeluaran tambahan, tetapi juga potensi berkurangnya pendapatan dan terganggunya arus kas,” tegas Reza mengingatkan risiko penurunan likuiditas pengusaha.
Ketidakpastian pasokan listrik yang berlarut-larut dikhawatirkan dapat merusak iklim investasi di Benua Etam. Calon investor tentu akan berhitung ulang sebelum menanamkan modal jika infrastruktur paling mendasar belum mampu memberikan jaminan stabilitas.
Baca Juga: Dugaan Tukar Akun Kelas Pintar Siswa SD di Balikpapan, Kuasa Hukum Siapkan Langkah Hukum
Maka, Apindo mendesak PLN untuk tidak membiarkan pemadaman terjadi secara mendadak tanpa pemberitahuan dini. Jadwal pemadaman bergilir idealnya disosialisasikan secara terbuka dan presisi minimal satu hari sebelum tindakan dilakukan.
“Kalau perlu sehari sebelum. Dengan informasi yang baik, pengusaha dapat mengatur kegiatan produksi, mengamankan bahan baku, serta mengurangi potensi kerugian,” ujar Reza memberikan masukan konkret.
Apindo juga meminta pemerintah daerah bersama PLN segera duduk bersama dengan asosiasi pelaku usaha guna memetakan klaster yang rentan.
Kolaborasi ini mendesak guna memastikan solusi darurat berjalan seiring percepatan perbaikan sistem pembangkit.
“Kami memahami PLN sedang melakukan pemulihan, namun dunia usaha membutuhkan kepastian kapan pasokan kembali normal serta langkah konkret agar gangguan serupa tidak terus berulang,” ucapnya. (rd)
Editor : Romdani.