KALTIMPOST.ID-Krisis kelistrikan akibat gangguan sistem interkoneksi terus berulang dan melumpuhkan berbagai sendi aktivitas masyarakat di semua kabupaten/kota di Kaltim.
Pemadaman bergilir yang tidak menentu tak hanya menghentikan roda pelayanan publik, tetapi juga mengancam kelangsungan usaha mikro serta memicu kerusakan perabot elektronik warga.
Kondisi tersebut memicu reaksi keras dari para pimpinan daerah yang menuntut transparansi teknis dan pembenahan menyeluruh dari manajemen PT PLN (Persero).
Di Kutai Timur (Kutim), pemadaman berulang atau biarpet sudah berlangsung intensif dalam dua bulan terakhir. Dalam satu hari, pemadaman listrik dilaporkan melanda dua hingga lima titik kawasan secara bergantian.
Baca Juga: Dugaan Tukar Akun Kelas Pintar Siswa SD di Balikpapan, Kuasa Hukum Siapkan Langkah Hukum
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengungkapkan, rapuhnya pasokan listrik di wilayahnya sangat dipengaruhi oleh ketergantungan pada jaringan interkoneksi regional Kalimantan. Gangguan pada salah satu pembangkit penyangga langsung berdampak domino ke daerah lain.
“Listrik persoalannya karena interkoneksi. Ada beberapa sumber kalau tidak salah, seperti dari Sangatta. Sangatta ini ada sumbernya di Tanjung Bara, kemudian di Tenggarong dan Banjarmasin. Ada empat sumber sedang mengalami gangguan,” kata Ardiansyah.
Dia menambahkan bahwa perbaikan teknis pada pembangkit penopang saat ini sedang diupayakan agar sistem segera stabil. Laporan berkala terus dipantau bersama otoritas terkait di Bontang dan Samarinda.
“Mudah-mudahan dalam satu atau dua pekan ini sudah bisa berjalan kembali normal seperti itu. Yang namanya masalah jangan dibiarkan, jadi harus diselesaikan dulu," tegas Ardiansyah saat disinggung mengenai batas waktu perbaikan serta potensi kompensasi kerugian warga. (rd)
Editor : Romdani.