KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Inche Abdoel (IA) Moeis Samarinda resmi meluncurkan layanan Klinik Gagal Jantung yang menjadi fasilitas pertama di Pulau Kalimantan.
Layanan baru ini dihadirkan untuk menekan risiko kematian serta menurunkan angka rawat inap berulang bagi para penderita gangguan fungsi jantung di Kota Tepian dan sekitarnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda dr Ismed Kusasih membeberkan, angka kunjungan pasien penderita masalah jantung ke RSUD IA Moeis terbilang sangat tinggi dan sebagian besar di antaranya terdiagnosa mengalami gagal jantung.
"Kunjungan pasien jantung ke RSUD IA Moeis cukup banyak, setiap bulan berkisar 900 sampai 1.000 pasien. Dari jumlah tersebut, pasien yang terdiagnosa gagal jantung juga cukup banyak," ujarnya, Minggu (20/9).
Baca Juga: Kredit Perbankan Makin Ngebut, Kredit Investasi Tumbuh 25,13 Persen
Ia menjelaskan, perbedaan mendasar antara klinik baru ini dengan poli jantung terletak pada pola tata kelola penanganan medis yang dilakukan secara komprehensif. Pasien yang telah terdiagnosa akan didampingi secara berkelanjutan, salah satunya lewat pemanfaatan grup percakapan daring untuk konsultasi cepat.
"Yang membedakan adalah pelayanannya lebih komprehensif. Pasien yang terdiagnosa dimasukkan ke grup WhatsApp khusus yang di dalamnya ada dokter spesialis dan perawat khusus jantung, sehingga pasien bisa berkonsultasi 24 jam," ungkapnya.
Langkah terintegrasi ini dipandang krusial karena fatalitas kasus penyakit jantung dan stroke (kardiovaskular) masih sangat mengkhawatirkan. Menurut Ismed, tingkat kematian pada pasien yang telah mengidap gagal jantung bisa menyentuh angka 34,1 persen.
"Kematian pasien gagal jantung itu cukup tinggi, hampir 34,1 persen. Secara umum di Indonesia, penyakit kardiovaskular seperti jantung dan stroke menjadi penyebab nomor satu dengan estimasi 800 ribu kematian setahun," bebernya.
Baca Juga: Mendadak Disisir Aparat Gabungan, Kamar Napi Lapas Balikpapan Kedapatan Simpan Sajam
Kondisi penurunan daya pompa jantung kerap membuat pasien mengalami sesak napas berat dan harus berulang kali dilarikan ke instalasi gawat darurat. Melalui klinik khusus ini, pasien diajarkan mengenali gejala harian secara mandiri agar terhindar dari siklus rawat inap berulang.
"Pasien gagal jantung punya kecenderungan masuk berulang ke rumah sakit. Lewat klinik ini kita harapkan pasien bisa meregulasi keadaannya sehari-hari di rumah sehingga mengurangi rehospitalisasi," jelasnya.
Di Pulau Jawa, klinik model ini baru diterapkan di sejumlah rumah sakit rujukan seperti di Jakarta, Bogor, dan Rumah Sakit UNS Solo. Untuk operasional di RSUD IA Moeis, manajemen menyiagakan tiga dokter spesialis jantung, yakni dr Syifa, dr Jaka, dan dr Bambang, yang turut disokong kolaborasi dokter penyakit dalam, paru, ginjal, hingga dokter puskesmas.
Ismed memastikan, masyarakat tidak perlu khawatir mengenai pembiayaan karena seluruh rangkaian pelayanan di klinik ini telah terintegrasi penuh dengan jaminan BPJS Kesehatan.
"Layanan ini ditanggung BPJS Kesehatan, jadi masyarakat tenang saja. Obat-obatan gagal jantung sudah tersedia dan sekarang pemantauan dokternya jauh lebih intensif," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo