Termasuk Kaltim! BMKG Ungkap Musim Hujan di Indonesia, Puncaknya Desember hingga Februari 2027

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 09:37 WIB
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Masyarakat Indonesia masih harus menghadapi musim kemarau lebih panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena El Nino berintensitas sangat kuat yang berlangsung bersamaan dengan pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD). Kombinasi keduanya membuat curah hujan berkurang dan memperpanjang periode kering di sejumlah daerah. 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologis.

Baca Juga: 1.056 Lowongan Kerja Depok Dibuka! Cek Link Live TikTok Dedi Mulyadi Rabu Pukul 09.30 WIB

Namun, awal musim hujan tidak datang bersamaan di seluruh Indonesia. BMKG memperkirakan 185 ZOM atau 24,66 persen luas daratan mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Selanjutnya, 266 ZOM atau 17,31 persen diprediksi menyusul pada Desember 2026.

Musim Hujan Lebih Pendek

Selain datang terlambat, musim hujan 2026/2027 diperkirakan berlangsung lebih singkat di banyak wilayah.

BMKG mencatat 482 ZOM atau 51,90 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami durasi musim hujan yang lebih pendek dibandingkan kondisi normal.

Meski waktunya lebih singkat, bukan berarti intensitas hujan otomatis rendah. BMKG justru memperkirakan sebagian wilayah berpotensi mengalami curah hujan lebih tinggi dari kondisi normal.

Sebanyak 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan diprediksi memiliki sifat hujan normal. Kemudian, 147 ZOM atau 18,55 persen diperkirakan lebih basah dari normal, sedangkan 42 ZOM atau 11,69 persen berpotensi lebih kering. 

Kondisi tersebut membuat masyarakat dan pemerintah daerah diminta tetap mewaspadai kemungkinan hujan dengan intensitas tinggi ketika musim hujan mulai masuk.

Puncak Hujan Desember 2026 hingga Februari 2027

BMKG memperkirakan periode puncak musim hujan berlangsung dalam tiga bulan.

Pada Desember 2026, puncak hujan diprediksi terjadi di 155 ZOM atau 36,94 persen luas daratan Indonesia. Wilayahnya antara lain sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, sebagian Sulawesi, hingga sejumlah wilayah Papua.

Kemudian pada Januari 2027, puncak hujan diperkirakan terjadi di 162 ZOM atau 25,68 persen luas daratan.

Wilayah yang masuk periode tersebut antara lain sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian kecil Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi hingga Papua.

Baca Juga: Kenapa Uang Rupiah Tanda Tangan Purbaya Diburu? BI Tegaskan Tetap Sah Digunakan

Sementara pada Februari 2027, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung di 190 ZOM atau 16,79 persen luas daratan. Kawasannya mencakup sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan sebagian besar Papua. 

BMKG mengingatkan puncak hujan yang terkonsentrasi dalam tiga bulan tersebut perlu menjadi perhatian karena curah hujan dapat turun dengan intensitas tinggi dalam periode relatif singkat.

25 Provinsi Mengalami Hari Tanpa Hujan Lebih dari 60 Hari

Dampak El Nino saat ini juga terlihat dari meluasnya kekeringan. BMKG mencatat sejumlah lokasi pengamatan di 25 provinsi mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari secara berurutan.

Kondisi paling ekstrem tercatat di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah tersebut mengalami 131 hari tanpa hujan, atau lebih dari empat bulan. 

Bahkan, fenomena El Nino tahun ini turut berdampak pada kawasan yang secara klimatologis biasanya mendapatkan hujan sepanjang tahun.

Dari 110 ZOM yang memiliki karakteristik hujan sepanjang tahun, sebanyak 98 ZOM justru mengalami periode kemarau pada 2026. Saat ini, secara keseluruhan terdapat 556 ZOM atau 61,91 persen luas daratan Indonesia yang masih mengalami musim kemarau. 

El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027

BMKG memperkirakan pengaruh El Nino masih berlangsung hingga setidaknya akhir kuartal I 2027.

Meski demikian, dampak kekeringan diperkirakan berangsur berkurang seiring masuknya musim hujan secara bertahap mulai November dan Desember 2026.

Baca Juga: 8 Ciri Penipuan WhatsApp yang Wajib Diwaspadai, Begini Cara Melaporkan Nomor Penipu

Dengan kondisi tersebut, masyarakat di wilayah terdampak kekeringan perlu memperhatikan ketersediaan air. Sementara daerah yang memasuki musim hujan perlu mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi akibat hujan berintensitas tinggi.

Editor : Uways Alqadrie
prediksi hujan 2026 dampak El Nino di Indonesia kapan musim hujan datang kapan kemarau berakhir bmkg