KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud mengecam keras aksi kelompok Houthi yang disebut menargetkan wilayah Arab Saudi, termasuk kota suci Mekkah.
Dalam rapat kabinet Arab Saudi pada Selasa (22/9/2026), Raja Salman menyebut Houthi sebagai “milisi teroris”. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari Saudi Press Agency (SPA), Raja Salman menilai dugaan serangan terhadap Mekkah merupakan tindakan serius. Ia menyebut aksi tersebut sebagai kejahatan dan bentuk provokasi yang dapat memicu kemarahan umat Islam di berbagai negara.
Baca Juga: Isu Dedi Mulyadi-Gibran di Pilpres 2029 Mencuat, Begini Respons Gubernur Jabar
Menurut pemerintah Arab Saudi, ancaman dari Houthi menjadi salah satu persoalan keamanan yang mendapat perhatian serius. Kelompok bersenjata yang berbasis di Yaman tersebut selama ini terlibat dalam konflik regional dan kerap dikaitkan dengan Iran.
Pernyataan Raja Salman menjadi perhatian karena keterlibatan langsung sang raja dalam isu keamanan terkini tergolong jarang. Dalam pemerintahan sehari-hari, sejumlah urusan penting lebih banyak dijalankan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi sendiri bukan persoalan baru. Kelompok tersebut sebelumnya telah melancarkan berbagai serangan ke wilayah Arab Saudi menggunakan rudal maupun drone.
Namun, dugaan serangan yang berkaitan dengan Mekkah mendapat perhatian lebih besar karena kota tersebut merupakan salah satu pusat paling penting bagi umat Islam dunia.
Raja Salman menegaskan bahwa ancaman terhadap tempat-tempat suci tidak hanya menyangkut keamanan nasional Arab Saudi, tetapi juga menyentuh kepentingan dan sentimen umat Islam secara luas.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika kawasan Timur Tengah masih berada dalam situasi geopolitik yang tegang. Konflik dan perselisihan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, Israel, negara-negara Teluk, serta kelompok bersenjata di kawasan terus menjadi perhatian internasional.
Arab Saudi selama ini berupaya memperkuat keamanan wilayahnya sekaligus menjaga stabilitas kawasan. Ancaman terhadap fasilitas strategis dan wilayah sipil menjadi salah satu isu utama dalam kebijakan keamanan Riyadh.
Pemerintah Arab Saudi memperketat perhatian terhadap ancaman keamanan di sekitar Mekkah setelah sebuah drone yang disebut diluncurkan kelompok Houthi terdeteksi mengarah ke kota suci tersebut.
Baca Juga: Termasuk Kaltim! BMKG Ungkap Musim Hujan di Indonesia, Puncaknya Desember hingga Februari 2027
Insiden itu terjadi sekitar sepekan sebelum pernyataan terbaru Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud. Pemerintah Saudi menyatakan drone tersebut berhasil dicegat sebelum mencapai sasaran.
Houthi membantah tuduhan tersebut. Pemimpin kelompok itu, Abdel-Malik al-Houthi, menyebut pernyataan Arab Saudi mengenai drone yang mengarah ke Mekkah sebagai tuduhan yang tidak benar.
Pengaktifan status siaga di Mekkah menjadi perhatian karena langkah tersebut disebut baru dilakukan kembali setelah hampir satu dekade. Mekkah merupakan lokasi Ka'bah dan menjadi tujuan utama umat Islam dari berbagai negara.
Raja Salman kemudian memberikan penghargaan kepada aparat keamanan dan militer Saudi yang terlibat dalam pengamanan wilayah tersebut.
Menurut Raja Salman, aparat keamanan memiliki tanggung jawab menjaga wilayah Arab Saudi sekaligus memastikan keselamatan tempat-tempat suci, jemaah, warga negara, dan penduduk yang berada di Kerajaan.
Ancaman Meluas ke Kota-Kota Saudi
Ancaman yang dihadapi Arab Saudi tidak hanya berkaitan dengan Mekkah. Serangan menggunakan drone dan rudal yang dikaitkan dengan Houthi juga disebut menyasar sejumlah wilayah serta fasilitas penting di Arab Saudi.
Infrastruktur energi dan jalur pelayaran turut menjadi bagian dari persoalan keamanan yang dihadapi kawasan tersebut.
Raja Salman juga menyinggung diplomasi yang dilakukan Mohammed bin Salman. Putra Mahkota Arab Saudi itu sebelumnya bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo.
Selain itu, Raja Salman membahas komunikasi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron mengenai upaya menjaga stabilitas Timur Tengah. Keamanan serta kebebasan pelayaran menjadi salah satu perhatian dalam pembicaraan tersebut.
Situasi ini berlangsung ketika konflik regional di Timur Tengah semakin kompleks. Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel turut berdampak terhadap keamanan kawasan, termasuk jalur pelayaran dan negara-negara di sekitar Teluk.
Baca Juga: Kondisi Terkini Solok Usai Banjir Bandang: 1 Meninggal, 1 Hilang, 4 Luka dan 100 Rumah Terdampak
Bagi Arab Saudi, ancaman terhadap Mekkah memiliki dimensi yang lebih luas karena kota tersebut menjadi pusat ibadah umat Islam dunia.
Karena itu, pengamanan terhadap kota suci dan jemaah menjadi salah satu perhatian utama pemerintah Saudi di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Editor : Uways Alqadrie