KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menghantui aktivitas pariwisata di Kalimantan Timur. Sejumlah destinasi yang menawarkan keindahan alam, terutama di kawasan laut di Berau, berpotensi ikut terdampak ketika kualitas udara semakin memburuk.
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim Muhammad Faisal mengatakan, kondisi tersebut perlu diantisipasi pelaku pariwisata.Namun, dampak karhutla tidak serta-merta membuat seluruh destinasi kehilangan aktivitas wisata.
Menurutnya, karakter setiap daerah berbeda dan celah pariwisata masih bisa dimanfaatkan. “Untuk di Berau cukup khawatir. Lumayan terganggu karena mereka menikmati pulau, laut, dan lain sebagainya,” kata Faisal, Jumat (25/9).
Baca Juga: Antisipasi Global Fund HIV Stop di 2027, Pemprov Kaltim Disiapkan Skema Lewat Perda Baru
Sementara di Kutai Kartanegara, Faisal menyebut kondisinya berbeda. Surutnya air Danau Semayan justru disebut menciptakan daya tarik baru. Daratan yang sebelumnya terendam mulai terlihat dan bahkan dapat dilintasi ketika kondisinya memungkinkan. Fenomena tersebut membuat kunjungan ke kawasan itu tetap ramai.
“Di Danau Semayang, justru karena air surut malah tambah ramai. Karena ingin melihat daratan danau yang sekarang,” ujarnya. Saat ditanya apakah ada antisipasi jika kabut asap menerjang destinasi wisata di kawasan Berau, dengan cara menutup sementara? Faisal belum bisa memastikan kebijakan tersebut diambilnya.
"Kita belum ada pembahasan sampai ke sana ya, karena saya belum mendapat laporan," tegasnya. Berdasarkan laporan harian Posko Siaga Darurat Karhutla per 24 September, terdapat 1.139 hotspot dan 20 firespot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Luas total area terbakar yang tercatat mencapai sekitar 6.974,42 hektare pada 1.616 firespot. Pada Kamis 24 September 2026 saja, pemadaman dilakukan terhadap 41,88 hektare pada 20 firespot.
Dari 20 firespot tersebut, Berau menjadi daerah dengan jumlah firespot terbanyak, yakni enam titik. Luas lahan yang terbakar dalam operasi hari itu mencapai 21,5 hektare, terbesar dibandingkan daerah lain. Penanganan melibatkan 53 personel, dengan kendala sumber air yang jauh serta keterbatasan peralatan. (riz)
Editor : Muhammad Rizki