LAPSUS: Kemarau Panjang Tekan IKN, Otorita Amankan Air Baku saat Kabut Asap Mendekati KIPP

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 06:01 WIB
Hamparan lahan yang telah terbuka terlihat dari udara di kawasan IKN. Sejumlah bagian tampak menghitam dengan vegetasi yang telah mengering dan terbakar, sementara kepulan asap terlihat di kejauhan. (FOTO FUAD MUHAMMAD/KP)
Hamparan lahan yang telah terbuka terlihat dari udara di kawasan IKN. Sejumlah bagian tampak menghitam dengan vegetasi yang telah mengering dan terbakar, sementara kepulan asap terlihat di kejauhan. (FOTO FUAD MUHAMMAD/KP)

KALTIMPOST.ID-Terpaan musim kemarau panjang yang diiringi fenomena El Nino menghadirkan tekanan ganda bagi Kaltim, mulai ancaman kebakaran hutan dan lahan hingga menyusutnya cadangan air baku.

Kondisi tersebut memaksa Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) bergerak cepat mengamankan pasokan air bersih sekaligus memperketat pengawasan lingkungan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Di berbagai sudut Kaltim, penanganan karhutla tidak lagi sekadar urusan memadamkan bara api di permukaan tanah gambut dan semak belukar.

Tantangan sesungguhnya merembet pada ketersediaan air yang kian menipis untuk membasahi lahan, serta menjaga mutu udara tetap layak dihirup masyarakat.

Baca Juga: Pangdam VI/Mulawarman Gembleng 422 Pelajar di Balikpapan, Ingatkan Bijak Bermedia Sosial

Kondisi itu sempat dirasakan langsung di kawasan IKN ketika kabut asap terpantau mendekati perimeter KIPP. Embusan asap tersebut terbawa pergerakan angin dari titik kebakaran di luar batas kawasan inti.

Demi mengantisipasi krisis air minum dan operasional konstruksi, pengelola IKN mulai mengaktifkan skema suplesi air baku antar-infrastruktur. Langkah ini diambil untuk menopang debit air sungai utama yang menyusut drastis.

Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Manajemen Kebijakan dan Strategi Konstruksi, Danis H Sumadilaga membeberkan, suplesi dilakukan dengan memompa air dari Bendungan Sepaku Semoi menuju instalasi Intake Sepaku. Strategi jaringan pipa itu menjadi tumpuan agar distribusi air ke KIPP tidak terganggu fluktuasi kemarau.

“Untuk keperluan di KIPP, pasokan air masih aman dan tetap kita jaga,” ujar Danis kepada awak media.

Kendati stok air baku diklaim masih mencukupi, Otorita IKN tetap memberlakukan pengawasan ketat terhadap konsumsi harian. Seluruh pekerja konstruksi, penghuni hunian pekerja, hingga pengelola gedung diwajibkan menghemat air secara disiplin.

Upaya pengamanan air juga diperluas melalui kerja sama lintas instansi di udara. Penaburan garam atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) digelar demi memancing terbentuknya awan hujan di atas tangkapan air waduk.

“Selain suplesi, kami juga melakukan langkah lain. Ada OMC bersama BMKG dan TNI AU untuk membantu menambah curah hujan dan menjaga cadangan air. Kemudian kami juga menyiapkan sumber air alternatif melalui penyelidikan dan pengeboran air tanah,” urai Danis secara rinci.

Baca Juga: Fresh Graduate Sulit Dapat Kerja, DPRD Balikpapan Soroti Syarat Pengalaman 3–5 Tahun

Terkait masuknya asap karhutla ke KIPP, Danis memastikan otoritas terus memantau indikator pencemaran secara berkesinambungan. Puluhan alat sensor telah dipasang di titik-titik strategis untuk mendeteksi partikel berbahaya secara langsung.

“Kami punya sensor untuk memonitor kualitas udara. Data kualitas udara juga bisa diakses masyarakat melalui Nusantara Hijau. Jadi kondisi udara kita pantau terus dan kalau ada perubahan, kita bisa segera mengambil langkah yang diperlukan,” kata Danis.

Ia menambahkan, koordinasi dengan pemerintah daerah penyangga terus diperkuat agar kebakaran lahan di luar teritori IKN bisa segera disekat.

Pasalnya, arah embusan angin selama kemarau sulit diprediksi dan berpotensi membawa kabut pekat ke pusat aktivitas pemerintahan. (rd)

Editor : Romdani.
karhutla Kaltim kabut asap ibu kota nusantara Otorita IKN Kutai Barat