LAPSUS: Waduk Lempake Menyusut akibat Kemarau, Samarinda Siapkan 340 Ribu Meter Kubik Cadangan Air

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 09:04 WIB
KERING: Waduk Benanga mengalami penurunan muka air. Foto dijepret Jumat (18/9). (RAMA SIHOTANG/KP)
KERING: Waduk Benanga mengalami penurunan muka air. Foto diabadikan Jumat (18/9). (RAMA SIHOTANG/KP)

KALTIMPOST.ID-Ketersediaan air baku di Samarinda menjadi perhatian menyusul kondisi Waduk Lempake yang mengalami penyusutan akibat kemarau.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Kaltim pun menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga pasokan air, termasuk menyuplai air dari Waduk Dayung.

Kepala BWS Kaltim Andri Rahmanto Wibowo mengatakan kondisi Waduk Lempake sebelumnya mulai mengkhawatirkan karena elevasi air terus menurun. Namun, pihaknya telah membuat alur suplai dari Waduk Dayung untuk membantu memenuhi kebutuhan air baku.

“Di Samarinda ini kemarin Waduk Lempake itu airnya sudah surut. Tapi ini sudah dibuatkan alur, jadi ada suplai air dari Waduk Dayung,” kata Andri pada Sabtu (26/9).

Baca Juga: Pangdam VI/Mulawarman Gembleng 422 Pelajar di Balikpapan, Ingatkan Bijak Bermedia Sosial

Menurutnya, elevasi air di Waduk Dayung saat ini berada di sekitar 6,4 meter. BWS Kaltim bersama BPBD juga telah menyiapkan pompa untuk mengalirkan air dari Waduk Dayung menuju sistem penyediaan air baku yang dapat dimanfaatkan PDAM.

Volume air yang disiapkan mencapai sekitar 340.000 meter kubik. Jumlah tersebut diperkirakan dapat memenuhi kebutuhan hingga akhir Desember apabila kondisi cuaca masih belum mendukung. “Kalau 340.000 meter kubik itu bisa dipakai sampai akhir Desember. Mudah-mudahan nanti juga hujan,” ujarnya.

Andri menyebut hujan mulai turun di sejumlah wilayah Samarinda dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu menghentikan penurunan debit sumber air.

Selain mengandalkan suplai dari Waduk Dayung, BWS Kaltim juga menyiapkan opsi jangka menengah dengan memanfaatkan air dari void bekas tambang di sekitar Lempake. Menurut Andri, terdapat dua void yang telah berusia lebih dari 10 tahun.

Pemeriksaan kualitas air oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menunjukkan air tersebut tidak bersifat asam dan telah terdapat ekosistem di dalamnya.

Namun, masih ditemukan kandungan koliform sehingga air tersebut tidak dapat langsung digunakan sebagai air baku tanpa pengolahan. “Relatif aman, cuma ada koliform. Nanti akan di-treatment dulu oleh PDAM,” jelasnya.

Baca Juga: Fresh Graduate Sulit Dapat Kerja, DPRD Balikpapan Soroti Syarat Pengalaman 3–5 Tahun

Pemanfaatan air dari void bekas tambang tersebut bukan sekadar opsi. Andri menyebut sebagian sumber air dari void telah dimanfaatkan di Kutai Kartanegara. Untuk Samarinda, rencana pemanfaatannya diarahkan sebagai cadangan air untuk kebutuhan jangka menengah dan panjang.

Rencananya, akan dibangun saluran atau pipa yang menghubungkan void dengan Waduk Lempake. Upaya tersebut menjadi bagian dari antisipasi pemerintah agar Samarinda memiliki sumber air alternatif ketika terjadi kekeringan.

Di sisi lain, BWS Kaltim juga rutin melakukan pengerukan sedimentasi di Waduk Lempake. Dalam setahun, pengerukan dilakukan dengan volume sekitar 20.000 hingga 30.000 meter kubik untuk menjaga kapasitas tampungan waduk. “Memang sedimennya banyak,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
karhutla Kaltim kabut asap kebakaran hutan dan lahan waduk benanga Kutai Barat