Kekeringan Melanda Kaltim, Pengamat Unmul Sebut Ketahanan Pangan Masih Terjaga

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 19:54 WIB
BWS Wilayah IV melakukan pengaliran air ke sawah yang mengalami kekeringan di Samarinda.
BWS Wilayah IV melakukan pengaliran air ke sawah yang mengalami kekeringan di Samarinda.

KALTIMPOST.ID-Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kaltim belum sampai mengganggu ketahanan pangan.

Ketersediaan pangan bagi masyarakat dinilai masih relatif terjaga, meski perubahan iklim menjadi tantangan yang perlu diantisipasi sektor pertanian.

Pengamat pertanian Universitas Mulawarman (Unmul) Profesor Krisna Purnawan Chandra mengatakan, sejauh ini belum terdapat laporan mengenai kerawanan pangan akibat kekeringan di Kaltim.

“Hingga saat ini kita belum pernah mendengar ada kerawanan pangan. Artinya, ketersediaan dan kecukupan pangan untuk masyarakat masih terjaga,” kata Krisna, Minggu (27/9).

Baca Juga: HUT Ke-66 Karang Taruna Balikpapan, Jalan Santai Meriah hingga Dorong Pemberdayaan Pemuda

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan upaya pemerintah bersama pemangku kepentingan dalam menjaga pasokan pangan berjalan cukup baik.

“Kalau boleh saya nilai, kita beri nilai 9 kepada pemerintah dan stakeholder yang berkaitan dengan tanaman karena bisa menjaga kestabilan ketahanan pangan kita, terutama di Kaltim,” ujarnya.

Meski demikian, Krisna mengingatkan kekeringan tetap perlu mendapat perhatian. Perubahan iklim dapat memberikan tekanan terhadap sektor pertanian, terlebih ketika curah hujan berkurang dan kebakaran lahan masih terjadi di sejumlah wilayah.

Kekeringan, kata dia, sebenarnya bukan kondisi baru bagi petani. Siklus tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun sehingga sebagian petani telah memiliki pola adaptasi untuk menjaga kegiatan produksi.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah memanfaatkan sumur bor sebagai sumber air ketika pasokan air berkurang. “Petaninya pun juga sudah tahu dan akhirnya membuat sumur bor,” katanya.

Krisna menambahkan, ketahanan pangan tidak hanya diukur dari ketersediaan pangan pokok. Berbagai komoditas lain yang menjadi kebutuhan masyarakat juga perlu dijaga pasokannya.

Baca Juga: UMKM Balikpapan Didorong Penuhi SNI, DPRD: Konsumen Lebih Pilih Kualitas daripada Harga Murah

Karena itu, kemampuan mempertahankan produksi dan ketersediaan pangan selama musim kering menjadi penting dalam menghadapi risiko perubahan iklim ke depan.

Ia berharap periode kekeringan segera berakhir seiring mulai turunnya hujan di sejumlah wilayah. Namun, dampak kekeringan terhadap sektor pertanian tetap perlu diantisipasi karena dapat muncul setelah periode kering berlangsung.

“Dampaknya memang tidak sekarang, pasti nanti. Tetapi untuk saat ini, alhamdulillah ketahanan pangan kita masih terjaga,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
karhutla Kaltim kabut asap kebakaran hutan dan lahan Kekeringan Air Kutai Barat