“Kota Raja Maju Berjaya” Harus Terasa di Jalan Pulang Warga

Muhhammad Rifqi Hidayatullah • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 21:50 WIB
qi
Oleh: Muhammad Rifqi Hidayatullah

Penulis adalah wartawan Kaltim Post/Kepala Biro Kaltim Post Kukar.


SETAHUN setelah arah waterfront city digaungkan, warga mulai menjumpai wajah baru Tenggarong dalam perjalanan sehari-hari. Namun, kemajuan baru berarti ketika ruang-ruang itu tetap hidup dan memberi manfaat.  Setiap  kota tampak paling meyakinkan ketika merayakan ulang tahun.

Ujian sesungguhnya dimulai ketika panggung mulai lengang dan warga menempuh jalan pulang. Pada 28 September 2026, Tenggarong genap berusia 244 tahun. Sehari sebelumnya, rangkaian puncak Erau kembali menghidupkan jalan-jalan kota, Keraton Kutai Kartanegara, dan tepian Sungai Mahakam. Tradisi dirawat, sejarah diceritakan, dan identitas Kota Raja dirayakan.

Ketika keramaian berangsur reda, warga kembali berjumpa dengan Tenggarong yang mereka alami setiap hari. Mereka melewati kawasan Museum Mulawarman, taman-taman di tepian Mahakam, kawasan kuliner, dan pasar. Ada ruang yang telah ramai, ada yang mulai menemukan kehidupan baru, dan ada pula yang masih menunggu untuk benar-benar dihidupkan.

Pada pengalaman sehari-hari itulah tema “Kota Raja Maju Berjaya” semestinya diuji. Tema tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai kalimat di panggung peringatan. “Maju” perlu terlihat dari perubahan kota, sedangkan “berjaya” harus terasa melalui manfaat yang bertahan bagi masyarakat.

Pada peringatan HUT ke-243 Tenggarong tahun lalu, Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri menyampaikan arah pengembangan Tenggarong menuju kota kompak atau *compact city*. Museum Mulawarman, Pulau Kumala, Waduk Panji Sukarame, dan sejumlah destinasi lainnya direncanakan terhubung secara bertahap dalam konsep kota tepian air atau *waterfront city*.

Arah tersebut masuk akal bagi Tenggarong. Kota ini tumbuh bersama Sungai Mahakam serta memiliki sejarah panjang Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Museum Mulawarman dapat menjadi etalase perjalanan Kota Raja, sedangkan sungai bukan sekadar batas alam, melainkan bagian dari identitas dan ruang hidup masyarakat.

Setahun kemudian, sejumlah unsur fisik gagasan itu mulai terlihat. Beberapa bagian tepian Mahakam mulai dikembangkan sebagai ruang publik. Ruang baru hadir dan mulai digunakan masyarakat, sementara tempat bagi kegiatan ekonomi turut disiapkan di sekitarnya. Taman Musik menjadi salah satu contohnya.

Ruang tersebut telah digunakan untuk kegiatan seni dan komunitas kreatif. Kehadirannya menunjukkan bahwa pembangunan dapat menghasilkan ruang perjumpaan ketika masyarakat memperoleh kesempatan untuk menggunakannya.

Kemajuan itu patut diapresiasi. Namun, menyebut seluruh gagasan waterfront city telah selesai dan berhasil juga terlalu dini. Posisi yang lebih jujur ialah mengakui bahwa wajah fisiknya mulai terbentuk, sedangkan kehidupan di dalamnya masih harus terus dibangun. Sebab, waterfront city bukan deretan proyek yang kebetulan menghadap Sungai Mahakam.

Ia seharusnya menjadi rangkaian ruang budaya, ruang publik, dan ruang ekonomi yang saling menghidupkan. Di sinilah pengelolaan menjadi sama pentingnya dengan pembangunan. Taman Kota Raja memberikan pelajaran mengenai hal tersebut. Pada pertengahan 2026, sejumlah pedagang di kawasan itu sempat mengeluhkan berkurangnya keramaian serta kondisi fasilitas yang dinilai membutuhkan perhatian.

Pujasera yang disiapkan di kawasan seberangnya membuka peluang untuk kembali menarik aktivitas masyarakat dan pelaku UMKM. Namun, satu fasilitas baru tidak otomatis membuat kawasan terus ramai. Ruang publik memerlukan kegiatan yang teratur, penerangan, kebersihan, keamanan, akses yang nyaman, dan alasan bagi masyarakat untuk datang kembali. Taman yang penuh saat peresmian belum tentu tetap hidup beberapa tahun kemudian.

Sebaliknya, ruang sederhana dapat terus dikunjungi apabila dikelola dengan baik dan menjawab kebutuhan penggunanya. Ujian yang lebih besar terlihat di Tangga Arung Square. Pada 24 September 2026, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kukar, Burhanuddin, menyebut pihaknya sedang mendata ulang sekitar 703 kios dan los. Sekitar 530 di antaranya telah memiliki kontrak, sedangkan sekitar 170 lainnya masih menjalani proses administrasi. Pemerintah juga menemukan lapak berkontrak yang belum digunakan untuk kegiatan perdagangan.

Kondisi itu tidak serta-merta menjadikan pembangunan Tangga Arung Square sebagai kegagalan. Pasar memerlukan waktu untuk membentuk kebiasaan baru bagi pedagang maupun pembeli. Namun, situasi tersebut menunjukkan bahwa selesainya bangunan bukanlah akhir pekerjaan. Pemerintah tidak cukup menyerahkan kunci kios kepada pedagang. Pasar juga harus memiliki alasan kuat untuk didatangi masyarakat.

Penataan pedagang, kenyamanan pengunjung, akses, parkir, kebersihan, variasi dagangan, dan kegiatan pendukung akan menentukan apakah bangunan itu benar-benar tumbuh menjadi pusat ekonomi. Salah satu kekeliruan dalam melihat pembangunan adalah menyamakan proyek yang selesai dengan persoalan yang selesai. Padahal, peresmian justru menjadi awal dari pekerjaan yang lebih panjang. 

Sebuah bangunan mungkin dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran. Menghidupkannya membutuhkan pengelolaan setiap hari: merawat fasilitas, menjaga kebersihan, mengganti penerangan yang rusak, menyusun kegiatan, mengevaluasi kios yang kosong, dan mendengarkan pengguna. 

Pekerjaan seperti itu mungkin tidak menghasilkan gambar semenarik peresmian. Namun, dari pekerjaan yang jarang memperoleh panggung itulah usia dan manfaat fasilitas publik ditentukan. Tenggarong kini memiliki peluang untuk menghubungkan ruang-ruang tersebut sebagai satu perjalanan kota.

Museum dapat menjadi pintu untuk mengenal sejarah. Taman menyediakan tempat berhenti dan berinteraksi. Pujasera disiapkan sebagai ruang kuliner dan UMKM. Tangga Arung Square diharapkan berkembang sebagai pusat perdagangan, sementara Pulau Kumala dapat memperpanjang pengalaman menikmati Sungai Mahakam.

Setiap kawasan tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri. Pengunjung perlu memiliki alasan untuk bergerak dari satu titik ke titik lain. Pada saat yang sama, warga lokal harus memperoleh ruang untuk berdagang, berkarya, dan mengambil bagian dalam pertumbuhan kawasan. Di situlah konsep kota tepian sungai memperoleh makna bagi publik. Bukan hanya Tenggarong yang semakin menarik ketika dipandang dari seberang Mahakam, tetapi kota yang menyediakan ruang hidup dan kesempatan ekonomi bagi masyarakatnya.

Keberhasilan selanjutnya tidak cukup diukur dari jumlah bangunan yang berdiri. Ukurannya adalah seberapa banyak ruang digunakan, seberapa lama aktivitas bertahan, seberapa baik fasilitas dirawat, dan seberapa besar manfaatnya dirasakan warga. Karena itu, kritik terhadap ruang yang sepi bukanlah penolakan terhadap pembangunan.

Kritik diperlukan agar investasi publik tidak berhenti menjadi bangunan yang kehilangan fungsi. Sebaliknya, pujian paling layak diberikan ketika fasilitas terus bekerja, kegiatan ekonomi tumbuh, dan masyarakat nyaman menggunakannya.

Pada usia ke-244, Tenggarong patut merayakan kemajuan yang telah terlihat. Kota ini memiliki sejarah, kebudayaan, sungai, serta ruang-ruang baru sebagai modal untuk membangun Kota Raja yang lebih hidup. Namun, ulang tahun juga menyediakan kesempatan untuk melihat pekerjaan yang belum selesai. Bukan untuk mengurangi kebanggaan, melainkan agar kemajuan tidak berhenti pada apa yang tampak. Ketika seluruh perayaan telah berlalu, warga akan kembali menempuh perjalanan yang sama.

Mereka melewati museum, taman, pujasera, pasar, dan tepian Mahakam. Dari sanalah mereka menilai apakah pembangunan hanya menambah bangunan atau benar-benar menambah kualitas kehidupan. Sebab, Kota Raja tidak cukup hanya tampak maju dari panggung perayaan. Kejayaannya harus terasa di jalan pulang warganya. (riz)

 

 

Editor : Muhammad Rizki
Kota Raja tenggarong kukar waterfront city umkm