KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Musim kemarau panjang yang diiringi kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda mulai berdampak pada sektor peternakan, menyusul berkurangnya padang rumput yang menjadi sumber utama hijauan pakan ternak (HPT).
Kondisi tersebut memaksa para peternak memutar otak dan merogoh kocek lebih dalam demi menyokong kebutuhan nutrisi hewan ternak mereka.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Samarinda, Maskuri membenarkan banyak area gembala yang hangus dilalap api.
"Sepengetahuan kami pasti terdampak karena yang banyak terbakar itu lahan gambut dan padang rumput. Peternak memang berjuang keras mencari pakan, tetapi keluhannya sumber rumput sekarang sangat susah dicari," ujarnya, Senin (28/9).
Baca Juga: Asap Karhutla Masih Mengancam, Ini Cara Tepat Lindungi Anak dan Balita di Rumah
Kelangkaan HPT membuat peternak beralih ke pakan alternatif untuk menjaga bobot sapi. Namun, langkah tersebut berdampak langsung pada biaya operasional peternak yang melonjak signifikan.
"Dengan tambahan konsentrat, ampas tahu, atau pakan olahan dari bungkil sawit, pengeluaran peternak tentu bertambah. Imbasnya harga sapi hidup mulai naik, daging segar ikut naik, dan daging beku nantinya bisa ikut-ikutan naik," bebernya.
Saat ini harga daging sapi segar di pasar tradisional Samarinda telah menyentuh angka Rp 155 ribu hingga Rp 165 ribu per kilogram. Beban peternak dan distributor kian berat menyusul surutnya debit air Sungai Mahakam yang menghambat jalur logistik pengiriman sapi antarpulau.
KM Cemara Nusantara (CN) merupakan pengangkut sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang selama ini memasok kebutuhan Sapi Bali di Kalimantan Timur hingga Kalimantan Selatan.
Baca Juga: Pemuda 19 Tahun Tewas Tertembak di Tallo Makassar, Kapolsek dan Anggotanya Diperiksa Propam Polda
"Kami pantau kapal pengangkut ternak KM CN bisa sandar atau tidak. Masalahnya kalau datang siang saat air belum pasang, kapal tidak bisa sandar dan itu otomatis menambah biaya parkir kapal di sungai," kuncinya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo