Kemarau Panjang Tekan Pertanian Kaltim, Sumur hingga Sungai Mulai Mengering

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 16:45 WIB
Areal pertanian di Kaltim. (AINUR/KP)
Areal pertanian di Kaltim. (AINUR/KP)

KALTIMPOST.ID-Kemarau berkepanjangan mulai menekan aktivitas pertanian di Kaltim.

Sejumlah sumber air yang selama ini diandalkan petani mengalami penurunan debit, bahkan sungai kecil dan parit mulai mengering.

Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kaltim Parasian Marpaung mengatakan, petani sebenarnya telah terbiasa menghadapi perubahan kondisi cuaca. Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga pasokan air agar aktivitas pertanian tetap berjalan.

“Sebagai pelaku utama, kami memang sudah tidak heran kalau ada dampak El Nino saat ini, karena kami sudah mengalaminya selama puluhan tahun. Siklus El Nino ini memang terlihat sekitar 10 tahun sekali,” kata Parasian, Selasa (29/9).

Baca Juga: Guruh Soekarnoputra Berpulang, Budiono Kenang Jejak Sang Seniman hingga Karyanya di Balikpapan

Selama ini, sebagian petani membangun sumber air secara swadaya. Selain sumur gali dan sumur bor, petani memanfaatkan embung yang dibangun pemerintah, terutama untuk memenuhi kebutuhan tanaman hortikultura.

Namun, menurut Parasian, tekanan kemarau tahun ini lebih terasa dibandingkan tahun sebelumnya. Kemarau yang berlangsung selama beberapa bulan membuat cadangan air terus berkurang.

“Kalau dibandingkan dengan tahun kemarin, memang tahun ini agak lebih parah dan lebih panjang,” ujarnya.

Sejumlah sumur yang digunakan petani mulai mengalami penurunan debit. Kondisi serupa terlihat pada sungai kecil dan parit yang sebelumnya menjadi alternatif sumber air.

Petani kemudian melakukan penyesuaian agar penggunaan air lebih efisien. Penyiraman diatur berdasarkan jadwal, sementara sebagian petani mulai menggunakan sistem irigasi tetes.

“Kami mengantisipasinya dengan mengatur jadwal penyiraman dan membuat irigasi tetes. Jadi kami tidak sepenuhnya bisa mengandalkan stok air yang ada di lapangan,” jelasnya.

Baca Juga: DLH Balikpapan Mulai Pangkas Pohon Jelang Musim Hujan, Warga Bisa Minta Bantuan

Di tengah keterbatasan tersebut, petani tetap berupaya mempertahankan kegiatan produksi. Pembangunan sumur pompa secara swadaya, kata dia, tidak mudah karena membutuhkan biaya relatif besar.

KTNA berharap pemerintah memperkuat ketersediaan sumber air pertanian untuk menghadapi kemarau panjang. Upaya itu dapat dilakukan melalui pembangunan waduk dan sumur bor serta pemanfaatan air Sungai Mahakam.

“Kami berharap dengan adanya kemarau panjang seperti ini, pemerintah segera memberikan perhatian dengan memperbanyak stok air,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
pertanian berkelanjutan Kaltim penajam paser utara ibu kota nusantara Kekeringan Air Kutai Barat