Kenapa Listrik Kaltim Kerap Padam padahal Surplus 152 MW? Ini Duduk Perkaranya

Eko Pralistio • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 14:57 WIB
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim Bambang Arwanto, saat memberikan keterangan kepada awak media. (FOTO/EKO PRALISTIO)
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim Bambang Arwanto, saat memberikan keterangan kepada awak media. (FOTO/EKO PRALISTIO)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sistem kelistrikan di Kalimantan Timur sebenarnya tidak kekurangan daya listrik. Daerah penghasil batu bara terbesar ini masih mencatat surplus 152,41 megawatt (MW).

Akan tetapi, surplus itu disebut belum menjamin listrik menyala tanpa gangguan. Hingga Rabu, 30 September 2026, pemadaman bergilir dilaporkan masih terjadi di sejumlah wilayah. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim Bambang Arwanto menjelaskan duduk perkara pemadaman bergilir yang meresahkan warga Benua Etam tersebut.

Dia bilang, daya mampu sistem kelistrikan di Kalimantan mencapai 1.082,07 MW. Sementara beban puncak berada di angka 929,66 MW. Dengan kondisi tersebut, terdapat cadangan daya sekitar 152,41 MW.

Baca Juga: Jadwal Mati Lampu Samarinda Kota Malam Ini, 30 September: Listrik di 29 Jalan dan Perumahan Putus

“Daya mampu di Kalimantan itu sebesar 1.082,07 MW, sedangkan beban puncaknya 929,66 MW. Jadi kita punya surplus 152,41 MW,” kata Bambang, Rabu (30/9). Untuk sistem interkoneksi, lanjut dia, daya mampu mencapai 1.035 MW dengan beban puncak 890 MW. Sementara pada sistem isolated, daya mampu tercatat 47,07 MW dengan beban puncak 39,66 MW.

Namun, persoalan muncul ketika sejumlah pembangkit masuk masa perawatan. Menurut Bambang, beberapa pembangkit IPP (Independent Power Producer) menjalani perawatan secara bergilir.

Kondisi itu membuat daya yang secara teoritis surplus tidak seluruhnya bisa digunakan pada saat yang sama. “Memang menurut penjelasan PLN, ada beberapa pembangkit IPP yang mengalami perawatan rutin. Jadi perawatannya bergilir. Itu yang mengakibatkan kita mengalami defisit daya,” ujarnya.

Baca Juga: Pagi Ini Listrik Padam 4 Jam, Warga Balikpapan Utara Kena Imbas Gangguan Pembangkit

Dalam kondisi tertentu, defisit daya disebut dapat mencapai 50 hingga 100 MW. Bambang menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kelistrikan Kaltim bukan semata-mata mengenai kecukupan daya. Keandalan sistem menjadi persoalan berikutnya.

“Tiga permasalahan PLN ini, pertama kita tanya apakah dayanya cukup. Kalau cukup, sudah cukup. Kemudian apakah dia andal? Nah, kalau andal, ternyata belum andal,” katanya. Menurut dia, surplus daya tidak akan banyak berarti jika sebagian pembangkit tidak dapat beroperasi karena menjalani perawatan.

Karena itu, Pemprov Kaltim berharap PLN bersama pembangkit IPP dapat menjaga keandalan sistem. Sebab, listrik merupakan layanan dasar yang langsung berkaitan dengan aktivitas masyarakat.

Baca Juga: Listrik Padam 4 Jam di Petung PPU Pagi Ini, Pelabuhan Ferry hingga Sejumlah Perusahaan Terdampak

“Kita berharap supaya ke depannya PLN ini dan IPP yang terkoneksi dalam sistem interkoneksi maupun isolated ini juga punya keandalan sistem,” tegasnya.

Bambang menilai masyarakat sebagai pengguna layanan listrik tidak seharusnya dirugikan akibat persoalan keandalan pembangkit. “Publik sebagai entitas yang dilayani oleh PLN jangan sampai dirugikan oleh ketidakandalan sistem tadi,” pungkasnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
pemadaman bergilir kaltim Listrik Kaltim Padam Surplus Listrik Kaltim Dinas ESDM Kaltim pln