BRIN Peringatkan Potensi Super El Nino 2026-2027, Kalimantan Rentan Tekanan Panas Ekstrem

Ari Arief • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 09:29 WIB
KEKERINGAN: Seorang petani tampak terpekur sementara di depannya hamparan sawah mengering dampak musim kemarau panjang.(generate ai)
KEKERINGAN: Seorang petani tampak terpekur sementara di depannya hamparan sawah mengering dampak musim kemarau panjang.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi fenomena Super El Nino periode 2026-2027. Fenomena iklim ekstrem ini diprediksi memicu kemarau panjang serta tekanan panas ekstrem di berbagai wilayah Indonesia, dengan dampak yang diperkirakan berlanjut hingga 2027-2028.

Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa pola dampak El Nino di Indonesia saat ini semakin beragam. Menurutnya, strategi mitigasi tidak lagi bisa hanya mengandalkan pembagian wilayah berdasarkan garis ekuator.

Baca Juga: Pesona 'Sakura' Brasil di Jantung Penajam PPU, Mekar Bunga Tabebuya Sulap bak Jepang

"Perambatan gelombang El Nino memicu pergeseran musim kemarau yang lebih panjang serta meningkatkan ancaman tekanan panas ekstrem atau indeks suhu bola basah (Wet Bulb Global Temperature/WBGT)," ujar Erma, Kamis (1/10).

Erma menyoroti variasi dampak lokal yang signifikan. Wilayah seperti Lamongan, Jawa Timur, menghadapi periode kering jauh lebih panjang, sementara Bogor masih diguyur hujan akibat faktor topografi pegunungan.

Baca Juga: Dugaan Jual-Beli Proyek Marak di PPU, LAKI Buka Posko Pengaduan dan Siapkan Laporan Resmi

Kajian BRIN mengidentifikasi sejumlah risiko sektoral yang krusial:

Baca Juga: Kebakaran Hanguskan Ex-Mess Korindo di PPU, Alumni Galang Bantuan Rp 16 Juta untuk Korban

Hasil simulasi menggunakan 14 model iklim NASA NEX-GDDP memperkuat proyeksi bahwa ancaman ini bukan fenomena singkat. "Ancaman kekeringan akibat El Nino diproyeksikan masih berlanjut hingga periode 2027-2028. Kondisi ini menunjukkan perlu kewaspadaan jangka panjang dari berbagai pihak," tegas Erma.

Potensi Rekor Bersejarah

Sejalan dengan analisis BRIN, Mark Merrifield dari Scripps Institution of Oceanography mengungkapkan bahwa anomali suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa menunjukkan sinyal kuat menuju fase Super El Nino yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027.

Baca Juga: Peringati Hari Pariwisata Dunia 2026, DLH PPU Boyong Tim Bank Sampah Bersihkan Pantai Tanjung Jumlai

"Untuk musim Oktober hingga Desember 2026, terdapat peluang sebesar 75 persen bahwa fenomena ini akan menjadi peristiwa bersejarah yang kekuatannya melampaui rekor El Nino sebelumnya sejak tahun 1950-an," kata Mark.

Selain kekeringan, Mark memperingatkan potensi risiko bahari di wilayah pesisir, termasuk kenaikan permukaan laut, pasang surut ekstrem, dan banjir rob akibat intensitas curah hujan lebat yang terlokalisasi.

Baca Juga: Sat Lantas Polres PPU Borong Penghargaan Lomba Polcil dan Mural se-Polda Kaltim

Menanggapi ancaman ini, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Dwisuryo Indroyono Soesilo, menekankan pentingnya menerjemahkan pemahaman ilmiah menjadi langkah kesiapsiagaan nyata pemerintah dan masyarakat.

Sebagai tindakan konkret, BRIN resmi menjalin kolaborasi riset internasional dengan Scripps Institution of Oceanography. Kerjasama ini mencakup mobilisasi sumber daya riset dan pengoperasian kapal riset Baruna Jaya milik BRIN guna mengumpulkan data iklim presisi demi meminimalkan dampak bencana di masa mendatang.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
kalimantan el nino 2027 papua