Dicap 'Wayang Jokowi', Listyo Sigit Dicopot Prabowo

Ari Arief • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 09:53 WIB
Ahmad Fadhli, direktur Politik dan Demokrasi Adidaya Institute.(Dok.Pribadi)
Ahmad Fadhli, direktur Politik dan Demokrasi Adidaya Institute.(Dok.Pribadi)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Jabatan Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) resmi berakhir setelah Presiden Prabowo Subianto melantik Jenderal Pol Suyudi Ario Seto di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10). Pergantian pucuk pimpinan Korps Bhayangkara ini dinilai tak lepas dari dinamika politik nasional, terutama bayang-bayang pengaruh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Direktur Politik dan Demokrasi Adidaya Institute, Ahmad Fadhli, menilai pergantian Listyo Sigit yang telah menjabat lebih dari lima tahun memang sudah semestinya dilakukan. Langkah ini dinilai sebagai langkah politis dan strategis Presiden Prabowo untuk menata kembali institusi Polri.

Baca Juga: 30 Ucapan Hari Batik Nasional 2026: Menjaga Warisan Budaya, Merawat Jejak Leluhur

"Sudah menjadi rahasia umum bahwa Listyo Sigit Prabowo adalah ‘wayang Jokowi’ dan tidak bisa lepas dari bayang-bayang Jokowi," kata Fadhli kepada pers di Jakarta, dikutip Jumat (2/10).

Menurut Fadhli, pergantian ini berkaitan erat dengan merenggangnya hubungan politik antara Presiden Prabowo dan Jokowi dalam beberapa waktu terakhir, salah satunya dipicu isu parliamentary threshold 7 persen. Situasi tersebut dinilai membuat stabilitas politik bergeser, termasuk keberadaan figur-figur kunci di tubuh kepolisian.

Baca Juga: Kendala Biaya Operasi Luka Bakar 80 Persen, Pasien Batal Pulang Paksa Usai Dibantu RSUD-Baznas PPU

"Beberapa waktu ini kita melihat hubungan antara Presiden Prabowo dan Jokowi merenggang. Jokowi meradang dan melakukan perlawanan dengan bergerilya ke basis-basis pemilih Prabowo untuk memenangkan PSI," ujarnya.

Ia menambahkan, pergeseran peta politik ini turut memengaruhi arah konsolidasi pemerintahan Prabowo. Menurutnya, dinamika tersebut membuka ruang kedekatan antara Prabowo dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Baca Juga: Jejak Kepemimpinan dan Tranformasi Dr. Gordius Ago di Perumda Benuo Taka PPU

"Ibarat bandul, Presiden Prabowo berada di tengah-tengah. Jika hubungan dengan Jokowi merenggang, maka dipastikan hubungan dengan Megawati akan menjadi dekat," tutur Fadhli.

Di sisi lain, Fadhli menekankan bahwa institusi kepolisian memang membutuhkan strong leadership untuk memulihkan kepercayaan publik yang merosot. Berdasarkan hasil survei Adidaya Institute periode 15–21 September 2026, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri berada di angka 64,8 persen atau menempati peringkat ke-4 dari bawah.

Baca Juga: Cegah Pelanggaran dan Isu Sensitif, ASN Kemenag PPU Digembleng Disiplin Kinerja

Survei tersebut juga menunjukkan mayoritas responden (57,6 persen) menilai kinerja Listyo Sigit sebagai pimpinan aparat penegak hukum paling buruk dalam melayani masyarakat, dibandingkan pejabat penegak hukum lainnya seperti ST Burhanuddin (20,2 persen), Setyo Budiyanto (15,9 persen), dan Sunarto (6,4 persen).

Sebagai informasi, dalam upacara pelantikan di Istana Negara tersebut, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Jenderal Pol Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo. Pada kesempatan yang sama, Komjen Pol Wahyu Hadiningrat juga dilantik sebagai Wakil Kapolri menggantikan Komjen Pol Dedi Prasetyo.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
Listyo jokowi prabowo