Trump Ancam Hantam Iran jika Terbukti Terlibat Penyerangan Pilot FlyDubai

Ari Arief • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 15:44 WIB
Ilustrasi momen paling mendebarkan di mana kapten pilot yang terluka berhasil membuka pintu kokpit, sementara para penumpang dan awak kabin berusaha melumpuhkan kopilot di tengah kekacauan untuk menyelamatkan pesawat.(generate ai)
Ilustrasi momen paling mendebarkan di mana kapten pilot yang terluka berhasil membuka pintu kokpit, sementara para penumpang dan awak kabin berusaha melumpuhkan kopilot di tengah kekacauan untuk menyelamatkan pesawat.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,WASHINGTON-Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyampaikan peringatan keras kepada Iran terkait insiden pembajakan dan penyerangan di dalam kokpit pesawat FlyDubai rute Uni Emirat Arab (UEA) menuju Tel Aviv, Israel. Trump menegaskan AS bakal membalas dan menghantam Iran secara "sangat keras" jika hasil investigasi membuktikan adanya keterlibatan Republik Islam tersebut.

"Saya katakan, berdasarkan apa yang saya dengar, jawabannya ya (ada dugaan keterlibatan). Namun, kami masih menyelidikinya saat ini," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Jumat (2/10).

Baca Juga: MK Tolak Permintaan Hadirkan Gibran dalam Sidang Sengketa Syarat Pendidikan

Ancaman tersebut dipicu oleh aksi nekat seorang kopilot berpaspor Oman yang mencoba menjatuhkan pesawat Boeing 737 Max 8 milik maskapai FlyDubai. Pesawat yang mengangkut 182 penumpang—sebagian besar warga negara Israel—dan kru itu sempat terjun bebas dari ketinggian 33.000 kaki ke 17.000 kaki dalam kurun satu menit.

Insiden berdarah terjadi saat kopilot tiba-tiba menyerang dan menikam kapten pilot asal India, Smit Machchhar, di tengah penerbangan. Meski terluka parah, Kapten Machchhar berhasil membuka pintu kokpit. Penumpang dan kru pelatih yang berada di pesawat langsung mengambil tindakan cepat untuk melumpuhkan pelaku hingga pesawat berhasil dialihkan dan mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi.

Baca Juga: MK Dalami Jejak Pendidikan Gibran di Luar Negeri, KBRI: Tidak Ada Arsip Dokumennya

Pihak berwenang Arab Saudi telah menahan pelaku dan menyerahkannya ke pemerintah UEA untuk proses hukum lebih lanjut. Investigasi lintas negara kini melibatkan UEA, Arab Saudi, AS, Oman, hingga tim intelijen Israel.

"Semua skenario sedang didalami, mulai dari dugaan aksi terorisme hingga gangguan kesehatan mental," ungkap seorang pejabat kawasan yang terlibat dalam penyelidikan.

Baca Juga: BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di 21 Provinsi, Ini Wilayah yang Perlu Waspada

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menuding pelaku telah terpapar indoktrinasi radikal, meski ia mengakui belum memiliki bukti pasti mengenai keterlibatan pihak luar maupun Iran secara langsung.

Kondisi geopolitik di Timur Tengah sendiri kian memanas. Bersamaan dengan insiden ini, militer AS dilaporkan telah mengerahkan sekitar 9.000 prajurit beserta kapal perang ke kawasan tersebut. Langkah ini berpotensi menempatkan tiga kapal induk AS di Timur Tengah pada akhir Oktober mendatang guna mengantisipasi eskalasi konflik.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
arab saudi amerika serikat Israel iran