KALTIMPOST.ID,TEL AVIV-Sektor penerbangan sipil internasional kini berada dalam sorotan tajam setelah sistem keamanan udara yang dikenal sangat ketat gagal mencegah insiden pembajakan di dalam kokpit pesawat FlyDubai rute Dubai menuju Tel Aviv, Israel. Peristiwa yang melibatkan penerbangan FZ1073 pada Rabu lalu tersebut mengungkap adanya celah dalam prosedur pemeriksaan kualifikasi kru pesawat asing yang terbang menuju wilayah Israel.
Penerbangan yang mengangkut 182 penumpang dan delapan kru tersebut sempat mengalami penurunan ketinggian drastis (plunge) dari 33.000 kaki ke 17.000 kaki dalam satu menit setelah sang kopilot menikam kapten pilot. Aksi nekat tersebut berhasil dilumpuhkan setelah kapten yang terluka berhasil membuka pintu kokpit dari dalam, memicu intervensi warga sipil dan kru pelatih untuk menguasai kembali kendali pesawat hingga mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi.
Baca Juga: Soal 35 Persen Suara Menteri, Rektor Terpilih Unmul: Semua Calon Tahu Sejak Awal, Silakan Gugat
Pemerintah Israel mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan latar belakang kru penerbangan asing. Berdasarkan aturan penerbangan Israel, pilot dari negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dilarang menerbangkan pesawat ke wilayahnya. Namun, pelaku yang diketahui berpaspor Oman—negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel—berhasil lolos dan bertugas pada penerbangan tersebut.
"Jelas ada celah keamanan di sini, dan kami sedang menanganinya," tegas Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dalam wawancaranya dengan media asing, Kamis dan dikutip Jumat (2/10).
Baca Juga: MMKSI Rombak Jajaran Direksi, Duet Baru Pimpin Divisi Penjualan dan Pemasaran
Juru Bicara Kantor Perdana Menteri Israel, Doron Spielman, mengonfirmasi bahwa Israel akan memperketat pemeriksaan dan verifikasi identitas seluruh pilot yang terbang menuju negaranya, tanpa memandang apakah penerbangan tersebut dioperasikan oleh maskapai Israel atau maskapai asing.
Di sisi lain, mantan Penasihat Keamanan Nasional Israel, Eyal Hulata, menyoroti pergeseran fokus ancaman keamanan penerbangan pasca-insiden ini. Menurutnya, selama ini standar keamanan global terlalu berfokus pada penumpang dan barang bawaan, sementara ancaman dari internal kru pesawat kerap terabaikan.
Baca Juga: Bukan Cuma JMB, Tim Hukum Addinur Ungkap Ada 4 Perusahaan Tambang Lain di Desa Mulawarman
"Hingga peristiwa ini terjadi, kemungkinan ancaman yang berasal dari pilot atau kru penerbangan tidak dianggap sebagai skenario utama. Hal itu kemungkinan besar akan berubah sekarang, di mana kru pesawat akan menjalani pemeriksaan yang jauh lebih ketat," kata Hulata.
Para ahli keamanan penerbangan internasional juga menyoroti dilema desain pintu kokpit yang diperkuat sejak tragedi 11 September 2001. Pakar keamanan udara dari Universitas Coventry, Philip Baum, menilai pintu kokpit anti-kebocoran yang awalnya dirancang untuk menghalau pembajak dari luar kini berisiko menjadi "benteng" jika ancaman tersebut justru datang dari dalam kokpit sendiri.
Baca Juga: Nekat Tanam Ganja di Halaman Rumah, Pria di Karangan Kutim Diciduk Usai Ambil Paket Kiriman
Hingga saat ini, tim penyidik gabungan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Israel—dengan bantuan otoritas AS serta Oman—masih melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap motif pelaku serta bagaimana benda tumpul atau senjata tajam tersebut bisa lolos ke dalam kokpit.(*)
Editor : Thomas Priyandoko