KALTIMPOST..ID, SAMARINDA – Rektor terpilih Universitas Mulawarman (Unmul), Prof Rudiyanto Amirta, menilai keterlibatan organisasi kemasyarakatan (ormas) dan kelompok eksternal dalam polemik Pemilihan Rektor (Pilrek) Unmul 2026–2030 sebagai hal yang tidak wajar.
Rudiyanto bilang, proses pemilihan rektor seharusnya diselesaikan melalui mekanisme internal perguruan tinggi. “Saya pikir kalau kita bertanya wajar dan tidak wajar, pasti kita katakan tidak wajar,” kata Rudiyanto, Kamis (1/10), pada konferensi pers via zoom.
Dia menyayangkan polemik Pilrek Unmul kemudian berkembang hingga menjadi perhatian secara nasional. “Ini jujur saja, ini jadi viral nasional. Kita malu sebenarnya dengan kondisi ini,” ujarnya. Rudiyanto menilai proses kompetisi untuk memilih pimpinan kampus tidak semestinya berujung pada intervensi pihak luar.
Baca Juga: Soal 35 Persen Suara Menteri, Rektor Terpilih Unmul: Semua Calon Tahu Sejak Awal, Silakan Gugat
“Tidak patut sebenarnya proses kompetisi empat tahunan ini kemudian bermuara kepada intervensi pihak-pihak luar, dalam hal ini ormas dan lain-lain,” katanya. Rudiyanto juga menyoroti isu yang dibawa oleh kelompok eksternal dalam polemik tersebut. Dia mengingatkan bahwa kampus harus terbuka bagi semua kalangan.
“Apalagi kemudian isu yang dibawa adalah isu kedekatan, karena kampus itu kan harus terbuka buat semua orang,” ujarnya. Menurut dia, Unmul tidak boleh berkembang menjadi institusi yang eksklusif berdasarkan identitas tertentu.
Dia mengatakan seluruh perguruan tinggi negeri berada dalam sistem pendidikan tinggi nasional yang sama. “Semua kampus PTN mengadopsi satu regulasi yang sama. Enggak ada kekhususan, misalnya di Unmul kemudian diberlakukan satu kekhususan,” katanya.
Baca Juga: Sindir Pihak yang Baru Reaktif Pascapilrek Unmul, Castro: Saya dari Dulu Kritik Suara Menteri
Rudiyanto juga menilai Unmul memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu perguruan tinggi besar di Kalimantan Timur. Kampus, kata dia, harus mampu menjadi penopang pembangunan Ibu Kota Nusantara dan memperluas jejaring hingga tingkat internasional.
“Harusnya kita pada garis itu, pada spirit itu. Tidak lagi bicara pada sektarian, kepada klaster khusus dan yang lain,” ujarnya. Rudiyanto menegaskan dirinya ingin Unmul menjadi kampus yang terbuka. Menurutnya, keterbukaan penting agar perguruan tinggi dapat memperoleh peluang kerja sama dan dukungan dari berbagai pihak.
“Dari awal saya katakan Unmul harus terbuka. Terbuka agar dia bisa ditopang juga dengan berbagai sumber yang dari luar,” katanya. Dia berharap polemik pasca-Pilrek tidak mengganggu pekerjaan kampus. Terlebih, Unmul harus segera menyelesaikan sejumlah pekerjaan pada akhir tahun.
Baca Juga: DPRD Samarinda Soroti Antrean Panjang BBM, Desak Tambahan Kuota hingga Bentuk Satgas Pengawas
Rudiyanto mengatakan dirinya kini berupaya membangun komunikasi dengan seluruh pihak agar proses transisi kepemimpinan berjalan baik. “Saya lagi mengupayakan itu, lagi berkomunikasi secara informal dan membangun komunikasi dengan Prof Abdunnur,” katanya. Dia berharap persoalan internal dapat diselesaikan sebelum dirinya dilantik. “Dalam satu bulan ke depan ini kita bisa selesaikan. Jadi sebelum saya dilantik, itu harusnya bisa diselesaikan,” pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki