LAPSUS: 75 Persen Pangan Balikpapan dan PPU Dipasok dari Luar Kaltim, Kekeringan Picu Tekanan Harga

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 09:03 WIB
Harga cabai di Balikpapan mahal. (FOTO ANGGI PRADITHA/KP)
Harga cabai di Balikpapan mahal. (FOTO ANGGI PRADITHA/KP)

KALTIMPOST.ID-Tekanan harga pangan di Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) turut dipengaruhi ketergantungan terhadap pasokan dari luar Kaltim.

Bank Indonesia (BI) Balikpapan mencatat lebih dari 75 persen kebutuhan sejumlah komoditas pangan di kedua daerah tersebut masih dipasok dari luar Kaltim.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, daerah pemasok utama antara lain Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Kondisi produksi di wilayah tersebut ikut terdampak kekeringan.

“Dampak El Nino yang lebih kuat dari prakiraan sebelumnya, khususnya di Jawa Timur, memengaruhi tingkat produksi dan pasokan dari daerah sentra produksi,” kata Robi, Jumat (2/10).

Baca Juga: Seleknas Timnas Bola Tangan Putri di Balikpapan, 21 Atlet Berebut 16 Tiket ke IHF Nations Trophy

Tekanan tersebut tercermin dalam inflasi. Pada September 2026, kelompok volatile food (VF) menyumbang 0,09 persen terhadap inflasi bulanan Balikpapan dan 0,46 persen di PPU.

Sepanjang Januari hingga September 2026, sejumlah komoditas pangan berulang kali menjadi penyumbang inflasi. Di Balikpapan, tomat tercatat lima kali menjadi penyumbang inflasi, sedangkan bayam, cabai rawit, dan kangkung masing-masing empat kali.

Di PPU, cabai rawit menjadi komoditas pangan yang paling sering menyumbang inflasi, yakni lima kali.

Tekanan pasokan berpotensi berlanjut hingga akhir tahun. BI mencatat sejumlah lahan pertanian di Jawa Timur mengalami kekeringan, termasuk lahan yang terindikasi puso. Kondisi serupa juga terjadi di Sulawesi Selatan.

Dampak kekeringan juga tercatat di PPU. Hingga pertengahan September 2026, sekitar 66 hektare lahan padi di Kecamatan Babulu, Waru, dan Penajam dilaporkan gagal panen akibat ketiadaan air.

“Risiko ini semakin menguat oleh dampak kekeringan yang telah memengaruhi produktivitas lahan pertanian di daerah sentra produksi maupun di Balikpapan, PPU, serta sekitarnya,” ujar Robi.

Baca Juga: Listrik Lapak UMKM di Taman Alun-Alun PPU Dipadamkan, Pedagang Tak Bisa Gunakan Peralatan Elektronik

Untuk menahan tekanan harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan menyiapkan 14 kali gerakan pangan murah, pasar murah, atau operasi pasar sepanjang Oktober hingga Desember. PPU menyiapkan 10 kali kegiatan pada periode yang sama.

Pengendalian pasokan juga dilakukan melalui kerja sama antardaerah dengan wilayah sumber pangan dan kerja sama antarpelaku usaha. BI turut mendorong penguatan produksi lokal melalui program pertanian dan penyaluran bibit hortikultura. (rd)

Editor : Romdani.
cabai mahal penajam paser utara pangan aman Wali Kota Balikpapan Rahmad Masud Kutai Barat