LAPSUS: Stok Pangan Kaltim Dinilai Masih Cukup, Pengamat Unmul Ingatkan Ancaman Pascakekeringan

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 11:05 WIB
Lahan pertanian dan persawahan di Betapus, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara. (FOTO HAFIZ/KP)
Lahan pertanian dan persawahan di Betapus, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara. (FOTO HAFIZ/KP)

KALTIMPOST.ID-Pengamat pertanian Universitas Mulawarman (Unmul) Prof Krisna Purnawan Chandra menilai belum ada indikasi kerawanan pangan di Kaltim meski sejumlah wilayah menghadapi kekeringan.

Menurutnya, ketersediaan pangan di Kaltim masih mencukupi, baik untuk pangan pokok maupun komoditas pangan lainnya.

Kondisi tersebut, menurut dia, turut didukung respons pemerintah dan pemangku kepentingan pangan dalam menghadapi dampak kekeringan.

“Kerawanan pangan berarti tersedianya kecukupan pangan bagi masyarakat, bukan hanya pangan pokok, tetapi juga pangan lainnya. Sampai saat ini kita belum mendengar adanya kondisi yang mengarah ke kerawanan pangan,” kata Chandra.

Baca Juga: Seleknas Timnas Bola Tangan Putri di Balikpapan, 21 Atlet Berebut 16 Tiket ke IHF Nations Trophy

Meski demikian, dampak kekeringan terhadap pertanian tetap perlu diantisipasi. Chandra mendorong penguatan informasi iklim agar petani dapat menentukan waktu tanam dan langkah budidaya berdasarkan kondisi cuaca.

Pemanfaatan aplikasi seperti Sipandu dinilai dapat membantu petani memperoleh informasi mengenai kecenderungan kondisi iklim ke depan. Selain itu, distribusi cadangan pangan melalui Bulog perlu dipastikan berjalan untuk menjaga ketersediaan pangan.

Menurutnya, cadangan pangan tidak hanya diperlukan selama kekeringan, tetapi juga untuk mengantisipasi dampaknya setelah kondisi kering berakhir.

“Yang perlu kita perhatikan adalah kondisi pasca-kekeringan. Mampukah setelah kekeringan kita mengembalikan sumber daya pertanian seperti semula?” ujarnya.

Kekeringan dapat menyebabkan lahan pertanian mengering dan menggeser waktu tanam. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produksi pada musim berikutnya.

Perlindungan terhadap petani juga dinilai penting. Ketika aktivitas pertanian terganggu, petani dapat kehilangan pendapatan dan mencari sumber penghasilan lain. Kondisi itu berpotensi memengaruhi keberlanjutan produksi dan stok pangan.

Baca Juga: Listrik Lapak UMKM di Taman Alun-Alun PPU Dipadamkan, Pedagang Tak Bisa Gunakan Peralatan Elektronik

Chandra mendorong pemerintah memberikan bantuan selama petani menghadapi dampak kekeringan. Setelah masa tanam kembali berlangsung, dukungan perlu dilanjutkan melalui modernisasi pertanian serta penambahan sumber air dan infrastruktur pendukung, termasuk waduk.

Dia menilai langkah pemerintah dan pemangku kepentingan sejauh ini masih mampu menjaga ketahanan pangan Kaltim di tengah kekeringan. (rd)

Editor : Romdani.
Kemarau 2026 penajam paser utara ibu kota nusantara Universitas Mulawarman Kutai Barat