KALTIMPOST.ID-Pengetahuan mengenai tumbuh kembang anak semakin mudah diperoleh orang tua. Namun, pemahaman tentang motorik kasar, motorik halus, kognitif hingga sosial emosional belum cukup jika tidak diterapkan dalam pola pengasuhan sehari-hari.
Rumah menjadi lingkungan pertama bagi anak untuk belajar, bermain, berinteraksi, dan memperoleh stimulasi. Karena itu, keterlibatan orang tua dan pengasuh memiliki peran penting, terutama dalam fase awal kehidupan anak.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari program SIGAP (Siapkan Generasi Anak Berprestasi) Tanoto Foundation.
Program ini berfokus pada pengembangan anak usia dini, termasuk memperkuat kualitas pengasuhan dan stimulasi bagi anak usia 0–3 tahun melalui Rumah Anak SIGAP.
Baca Juga: Pengendara Akali Nopol Beli Pertalite, Pertamina Perketat Pencatatan Digital di Tujuh SPBU Berau
Orangtua tidak hanya diperkenalkan dengan tahapan perkembangan anak. Mereka juga didorong menerapkan stimulasi melalui aktivitas dan interaksi sederhana di rumah sesuai usia serta kemampuan anak.
Praktik tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) Rumah Anak SIGAP. Forum mempertemukan fasilitator dengan orangtua dan pengasuh untuk bertukar pengalaman mengenai stimulasi dan pola pengasuhan yang telah diterapkan.
Fasilitator Rumah Anak SIGAP di Loa Pari, Kutai Kartanegara (Kukar), Selvia Nurhaliza mengatakan, pemahaman orangtua mengenai aspek perkembangan anak mulai meningkat.
“Kalau di sini pengasuh (orangtua) sudah memahami istilah stimulasi motorik, motorik halus, motorik kasar, kognitif, sosem (sosial emosional), itu mereka sudah mengerti,” ujarnya.
Pemahaman tersebut menjadi modal bagi orangtua untuk mengenali kebutuhan anak. Dengan mengetahui tahapan perkembangan, stimulasi dapat disesuaikan dengan usia dan kemampuan masing-masing anak.
Manfaat serupa dirasakan Hielda Annisa, orangtua penerima manfaat Rumah Anak SIGAP di Bukit Raya. Dia mengaku mendapatkan pengetahuan baru setelah mengikuti kelas stimulasi individu.
“Dari kelas stimulasi individu Rumah Anak SIGAP jadi tahu perkembangan anak sesuai umurnya, pengetahuan juga bertambah tentang stimulasi sesuai jenjang umur,” katanya.
Baca Juga: Wakapolda Kaltim Resmi Berganti, Brigjen Rustam Mansur Siap Akselerasi Program Polda Kaltim
Tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan itu diterapkan secara konsisten di rumah. Sebab, stimulasi tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan khusus atau menggunakan sarana tertentu.
Mengajak anak berbicara dan bermain, membacakan cerita, memberikan kesempatan bergerak dan bereksplorasi, hingga membantu mengenali emosi dapat menjadi bagian dari stimulasi apabila dilakukan sesuai tahapan perkembangannya.
Dalam konteks tersebut, orangtua bukan hanya penerima informasi. Mereka menjadi pihak yang memiliki kesempatan paling besar menerjemahkan pengetahuan mengenai tumbuh kembang melalui interaksi setiap hari.
FGD juga menjadi ruang evaluasi bersama. Fasilitator dapat melihat penerapan pengetahuan yang diperoleh keluarga, sedangkan orangtua dapat merefleksikan pola pengasuhan sekaligus menyampaikan kendala yang dihadapi di rumah.
Pendekatan itu sejalan dengan SIGAP yang menempatkan orangtua, pengasuh, dan komunitas sebagai bagian dari lingkungan pendukung perkembangan anak.
Peningkatan kualitas pengasuhan menjadi salah satu fokus agar stimulasi tidak berhenti ketika kegiatan di Rumah Anak SIGAP selesai.
Dengan demikian, pengembangan anak usia dini tidak hanya bergantung pada seberapa banyak informasi yang dimiliki orangtua.
Pengetahuan tersebut perlu hadir dalam percakapan, permainan, respons, dan kebiasaan sehari-hari. Sebab, sebelum mengenal lingkungan yang lebih luas, proses belajar dan tumbuh kembang anak bermula dari rumah. (rd)
Editor : Romdani.