KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mendorong komoditas kelapa sawit menjadi bagian dari transformasi industri di Kaltim. Sawit dinilai memiliki prospek jangka panjang karena dapat direplanting dan terus menghasilkan dalam waktu puluhan tahun.
Menurut Seno, transformasi tersebut penting dilakukan untuk menggeser ketergantungan ekonomi daerah dari industri ekstraktif menuju industri yang lebih berkelanjutan. “Ya, justru itu yang kami harapkan, adanya transformasi industri, dari industri ekstraktif, pertambangan dan sebagainya, menjadi industri yang berkelanjutan,” kata Seno Aji, Selasa (6/10).
Ia menyebut kelapa sawit menjadi salah satu sektor yang didorong dalam transformasi tersebut. Terlebih, kebijakan pemerintah pusat terkait B50 akan meningkatkan kebutuhan terhadap minyak kelapa sawit.
Baca Juga: Cegah Produktivitas Anjlok, Forum Petani Sawit Kaltim Ingatkan Jangan Beli Bibit Pinggir Jalan
“Kelapa sawit menjadi salah satu tujuan kita karena dia bisa direplanting dan bisa berpuluh-puluh tahun menghasilkan,” ujarnya. Seno mengatakan peningkatan kebutuhan minyak sawit juga diharapkan berdampak terhadap harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani.
Karena itu, pemerintah provinsi memberikan apresiasi kepada forum petani kelapa sawit yang mendorong pengembangan perkebunan secara mandiri. Namun, pengembangan perkebunan sawit tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku di Benua Etam. Petani mandiri, kata Seno, harus memastikan kebun mereka tidak berada di kawasan yang dilarang untuk kegiatan perkebunan.
“Yang secara mandiri mereka menanam sawit di kebunnya, tapi tentu saja harus disesuaikan dengan peraturan-peraturan yang berlaku di Kalimantan Timur. Misalnya, mereka tidak menanam di lahan berhutan dan lain sebagainya,” jelasnya.
Baca Juga: Antisipasi Kebakaran Lahan di Musim Kemarau, Petani Sawit Kaltim Dilarang Buka Lahan dengan Membakar
Seno menegaskan Pemprov Kaltim terus berupaya memberikan dukungan kepada petani sawit mandiri. Salah satunya terkait akses harga TBS yang diharapkan tidak membedakan petani mandiri dengan petani plasma.
“Harga petani mandiri TBS yang sekarang bisa panen itu sama dengan harga petani plasma,” katanya. Menurut dia, kesetaraan harga tersebut membuka ruang bagi petani mandiri untuk meningkatkan produktivitas. Namun, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dengan dukungan harga.
Petani juga membutuhkan peningkatan kapasitas melalui pelatihan. Forum-forum petani sawit dinilai dapat menjadi ruang untuk memperkuat pengetahuan dan kemampuan petani dalam mengelola perkebunan.
“Ini juga memberikan kesempatan yang luas kepada petani mandiri untuk meningkatkan produktivitas mereka. Dan tentu saja, mereka juga perlu mendapatkan pelatihan-pelatihan dari forum-forum yang ada seperti sekarang,” pungkas Seno. (riz)
Editor : Muhammad Rizki