KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Sektor pertanian Amerika Serikat (AS) menghadapi tekanan keuangan seiring membengkaknya utang petani dan meningkatnya biaya produksi. Nilai utang pertanian dilaporkan menembus USD605 miliar atau setara Rp10.869 triliun, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Angka tersebut dinilai belum sepenuhnya menggambarkan beban utang yang ditanggung petani. Sebab, pinjaman dari lembaga keuangan nontradisional, perusahaan pembiayaan, hingga pemasok kebutuhan pertanian diduga belum tercatat secara menyeluruh dalam data resmi pemerintah.
Tekanan terhadap petani AS datang dari berbagai arah. Perang dagang Washington mengganggu perdagangan komoditas, termasuk penjualan ke China. Kondisi ini berpotensi menekan harga jual hasil pertanian, sementara biaya operasional terus meningkat.
Baca Juga: Survei CELIOS: 55 Persen Pemilih Prabowo Tak Ingin Memilih Lagi pada Pilpres 2029
Situasi semakin berat akibat konflik AS-Israel dengan Iran yang memicu ketidakpastian rantai pasok global. Kenaikan biaya pupuk dan bahan bakar diesel menambah beban produksi yang harus ditanggung petani.
Di tengah risiko keuangan yang meningkat, perbankan komersial juga memperketat penyaluran kredit. Petani pun semakin bergantung pada sumber pembiayaan alternatif, mulai dari koperasi, produsen alat pertanian, perusahaan teknologi finansial (fintech), hingga pemasok benih dan pupuk.
Pelaksana Tugas Asisten Administrator Economic Research Service Departemen Pertanian AS (USDA), Jeffrey Hopkins, mengakui pemerintah menghadapi tantangan dalam mendata sumber pinjaman baru yang terus bermunculan.
Sementara itu, Profesor Keuangan Pertanian Kansas State University, Jenny Ifft, memperkirakan pinjaman vendor dan pembiayaan nontradisional berpotensi mencapai dua hingga tiga kali lipat dari USD45 miliar yang tercatat USDA pada 2025.
Temuan lain berasal dari studi terhadap 4,4 juta catatan hak jaminan atas peralatan pertanian selama periode 2001–2019. Studi tersebut menunjukkan nilai utang peralatan melalui jalur nontradisional bisa mencapai empat kali lipat angka yang dilaporkan pemerintah.
Baca Juga: Viral Siswi SMPN 1 di Sidrap Dirundung 10 Teman, Ditampar hingga Dilempari Ompreng MBG
Besarnya ketergantungan terhadap pembiayaan juga terlihat dari wawancara dengan lebih dari 52 petani komersial di tujuh negara bagian AS. Mayoritas responden memiliki tujuh hingga 10 jalur kredit sekaligus. Sebagian lainnya bahkan mengelola lebih dari 30 fasilitas kredit.
Satu keluarga petani di Iowa, misalnya, mengaku memiliki 42 jalur kredit. Jumlah tersebut berkaitan dengan skema pembelian maupun penyewaan mesin yang mengharuskan mereka membuka fasilitas kredit terpisah melalui dealer peralatan.
.
Editor : Uways Alqadrie