Pakar Ingatkan Risiko Krisis Listrik dan Air di Balik Pembangunan Data Center IKN

Ari Arief • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 15:39 WIB
Ilustrasi pembangunan Pusat Data-AI di Ibu Kota Nusantara.(generate ai)
Ilustrasi pembangunan Pusat Data-AI di Ibu Kota Nusantara.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Ambisi pemerintah menjadikan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai laboratorium teknologi masa depan menghadapi tantangan besar. Di balik rencana pengembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) dan pusat data (data center), terdapat pasokan listrik serta air skala besar yang harus dipastikan ketersediaannya untuk jangka panjang.

Direktur Cognitive Artificial Intelligence Research Group (CAIRG), Arwin Sumari, mengingatkan bahwa pembangunan ekosistem AI di IKN tidak bisa hanya berfokus pada kecanggihan teknologi semata, tetapi justru juga kesiapan infrastruktur pendukungnya.

Baca Juga: Ketegangan Saudi-Houthi Memanas, Pemerintah Didesak Tunda Keberangkatan Umrah

"Fakta di lapangan, sebagian besar infrastruktur AI masih menggunakan layanan dari pihak asing. Indonesia perlu memperkuat infrastruktur komputasi domestik agar tidak terus bergantung pada layanan luar," kata Arwin Sumari, kepada wartawan, Selasa (13/10/2026).

Namun, lanjut dia, pembangunan pusat data berkapasitas besar menuntut keandalan sistem kelistrikan dan pendinginan yang beroperasi 24 jam nonstop. Arwin memberi gambaran perbandingan kebutuhan daya super besar pada teknologi AI modern.

Baca Juga: Cegah Karhutla, Polsek Waru PPU Sosialisasi dan Sebar Stiker Maklumat Kapolda Kaltim

OpenAI dan Oracle berencana mengembangkan kapasitas data center hingga 4,5 GigaWatt (GW). Sementara itu, data Kementerian ESDM mencatat kapasitas daya puncak di wilayah Kalimantan saat ini baru sebesar 2,412 GW.

"Jika kapasitas tersebut digunakan setiap hari untuk mendukung data center dan AI, maka kapasitas daya di wilayah Kalimantan jelas harus ditingkatkan. Perencanaan Smart IKN untuk 10 hingga 20 tahun ke depan wajib selaras dengan Kementerian ESDM dan instansi terkait," tegas Senior Technical Advisor Indonesia Cyber Security Forum (ICS) tersebut.

Baca Juga: Bentengi Remaja PPU dari Pengaruh Negatif, MUI Gelar Pembinaan Karakter dan Keagamaan

Selain pasokan energi, Arwin menyoroti kebutuhan air yang tinggi untuk sistem pendinginan (cooling system) server AI. Peralatan komputasi AI super cepat menghasilkan panas tinggi, sehingga memerlukan pendinginan nonstop agar perangkat bekerja optimal. Jika tidak dikalkulasi sejak awal, hal ini dikhawatirkan memicu persaingan penggunaan air bersih antara pusat data dengan kebutuhan masyarakat dan industri lokal.

Sebagai solusi, Arwin mendorong pemerintah dan peneliti nasional untuk mengembangkan model AI lokal dengan algoritma yang lebih efisien guna menekan konsumsi energi dan air, disamping menerapkan pendekatan non-konvensional dalam penyediaan air pendingin di IKN.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
IKN Algoritma ai