Kabut Asap Masih Selimuti Singapura, Kualitas Udara Bertahan di Level Tidak Sehat

Thomas Priyandoko • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 14:59 WIB
Kabut asap menyelimuti Singapura. (Foto: AFP)
Kabut asap menyelimuti Singapura. (Foto: AFP)

 

SINGAPURA- Kondisi kualitas udara di Singapura masih memprihatinkan pada 17 Oktober 2026. Meskipun angka Indeks Standar Polusi (PSI) 24 jam di wilayah pusat sedikit melandai dari kategori sangat tidak sehat ke level tidak sehat, polusi udara secara umum masih belum membaik.

Berdasarkan data hingga pukul 14.00 waktu setempat, seluruh wilayah Singapura tercatat berada dalam kategori tidak sehat. Wilayah barat mencatat angka PSI tertinggi mencapai 185, disusul wilayah pusat dengan 184, timur 173, selatan 154, dan utara 135.

Selain PSI, tingkat PM2.5 per jam juga menunjukkan lonjakan signifikan di hampir seluruh penjuru negeri. Wilayah barat menjadi yang paling terdampak dengan pembacaan PM2.5 mencapai 243, diikuti oleh wilayah pusat (179), selatan (162), dan timur (159).

Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) mengategorikan tingkat PM2.5 antara 151 hingga 250 sebagai level tinggi. Saat ini, hanya wilayah utara yang mencatatkan level elevasi lebih rendah di angka 91.

Rentetan buruk kualitas udara ini telah berlangsung selama 13 hari berturut-turut sejak 5 Oktober. Ini menjadi periode kabut asap terpanjang yang dialami Singapura sejak krisis serupa pada tahun 2015, yang saat itu berlangsung selama 14 hari.

Dalam keterangan resmi yang dilansir The Straits Times, NEA memperkirakan angka PSI harian akan bergerak di kisaran 150 hingga 230. Angka tersebut mengindikasikan bahwa potensi kualitas udara masih akan bertahan di antara rentang tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Harapan akan perbaikan udara sempat muncul seiring prakiraan hujan yang akan turun di Singapura dan wilayah Kalimantan pada 17 Oktober. "Dengan prakiraan angin yang bergeser dari arah tenggara atau selatan-tenggara, transportasi asap dari Kalimantan ke Singapura mungkin dapat berkurang," jelas pihak NEA.

Meski demikian, pihak otoritas tetap waspada karena ada potensi asap dari Sumatera yang mungkin terbawa angin ke arah Singapura. NEA memproyeksikan kondisi cuaca akan mulai stabil dengan arah angin yang melemah pada 18 dan 19 Oktober, yang diharapkan dapat membantu mengurangi pergerakan kabut asap secara bertahap.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
kualitas udara singapura asap karhutla singapura dampak asap karhutla sampai singapura