Karhutla Meluas hingga Kawasan IKN, BMKG Ungkap Penyebab Kabut Asap Menyelimuti Balikpapan dan IKN

Dina Angelina • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 18:08 WIB
Petugas gabungan berupaya memadamkan karhutla di kawasan IKN, Sabtu (17/10) malam.
Petugas gabungan berupaya memadamkan karhutla di kawasan IKN, Sabtu (17/10) malam. 

KALTIMPOST.ID-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kaltim kini meluas hingga menyentuh kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kobaran api dilaporkan muncul tidak jauh dari SMA Taruna Nusantara dan Embung EC01.

​Berdasarkan informasi yang dihimpun, api mulai membesar sekitar pukul 18.30 WITA atau selepas ibadah Magrib dan terus membara hingga dini hari. ​

Peristiwa itu terjadi di tengah kepungan kabut asap yang menyelimuti Kaltim akibat maraknya titik panas (hotspot).

BMKG mencatat sebanyak 391 titik panas terdeteksi di Kaltim pada Sabtu (17/10). Kabupaten Paser menjadi wilayah penyumbang terbanyak dengan 236 titik, disusul Kutai Timur (67 titik), Kutai Kartanegara (58 titik), Kutai Barat (24 titik), Berau (4 titik), dan Penajam Paser Utara (2 titik).

Baca Juga: LAPSUS: DPRD Kaltim Desak Pemerintah Pusat Lebih Adil Membagi DBH, Baharuddin: Jangan Diambil Semua

​Ketua Tim Kerja Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, menjelaskan bahwa kabut asap yang melingkupi Balikpapan, IKN, dan sekitarnya dipicu oleh kombinasi karhutla lokal serta asap kiriman daerah lain.

“Asap di Kaltim secara umum berasal dari karhutla di Kaltim sendiri maupun berasal dari kejadian dari daerah sekitar,” kata Huda.

​Selain karhutla lokal di Balikpapan, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara (PPU), dan Paser, kebakaran lahan secara masif juga masih terjadi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Bahkan, karhutla sempat marak di wilayah Indonesia bagian timur seperti Sulawesi Barat, Maluku (Ambon), hingga Papua bagian selatan.

“Berdasarkan kondisi angin saat ini yang berasal dari timur menuju barat, kemungkinan juga terdapat asap kiriman dari sekitar daerah Sulawesi dan sekitarnya. Pola angin mendukung adanya pergeseran atau pergerakan kabut asap yang berasal dari daerah-daerah tersebut,” ungkapnya.

Beberapa waktu lalu, pola pergerakan angin dari arah Timur–Tenggara menuju Barat Laut–Utara membawa kabut asap dari berbagai daerah hingga tertahan dan mengumpul di Kalimantan, khususnya Balikpapan dan kawasan IKN.

Baca Juga: LAPSUS: DBH Dipangkas, Keuangan Kaltim Tertekan, Tuntut Pusat Transfer Kewajiban yang Belum Dibayar

Itu yang membuat asap menumpuk hingga bergeser ke wilayah barat Indonesia serta area perbatasan antarnegara.

​Secara nasional, citra sebaran asap BMKG pada 18 Oktober 2026 mencatat kabut asap menyelimuti 22 provinsi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

BMKG mendeteksi adanya asap lintas batas (transboundary haze) dari Sumatra dan Kalimantan menuju Semenanjung Malaysia, Sarawak, dan Singapura, serta dari Papua Nugini menuju Papua Selatan.

Meski demikian, Huda optimistis kualitas udara berpotensi membaik seiring datangnya hujan dan masifnya upaya pemadaman di lapangan.

“Namun kondisi saat ini kemungkinan cenderung membaik. Apalagi dengan adanya curah hujan beberapa hari ini dan adanya upaya pemadaman dari pihak terkait,” tuturnya.

​Untuk memantau sebaran asap, BMKG memanfaatkan citra satelit dengan teknik red, green, blue (RGB).
Melalui metode itu, asap terlihat tipis, berwarna kuning keabu-abuan, serta tidak bertekstur, sehingga memiliki pola pergerakan yang berbeda dibanding awan. (rd)

Editor : Romdani.
karhutla Kaltim penajam paser utara ibu kota nusantara kebakaran hutan dan lahan Kutai Barat