KALTIMPOST.ID-Ketergantungan ekonomi Kaltim terhadap sektor pertambangan mendorong perlunya pengembangan komoditas alternatif yang berkelanjutan.
Tanaman nilam dinilai memiliki potensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat, terutama melalui pemanfaatan lahan terdegradasi dan pengembangan industri minyak atsiri.
Peluang tersebut dibahas Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB) Kaltim dalam webinar bertajuk Menggali Potensi Nilam untuk Usaha Masyarakat, Minggu (18/10) malam.
Kegiatan menghadirkan Dina Riska, penggiat komoditas dan produk lestari sekaligus alumni program Double Degree Master Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya angkatan 2006.
Baca Juga: Tambang Emas Ilegal di Paser Rawan Picu Konflik Sosial, DPRD Desak Polisi Tindak Penambang
Dina menjelaskan, Indonesia menguasai sekitar 80–90 persen pasar minyak nilam dunia. Komoditas tersebut menjadi bahan pengikat aroma dalam industri parfum premium, kosmetik, hingga farmasi.
Nilai ekspor minyak nilam Indonesia pada 2025 disebut mencapai USD 173,4 juta, meningkat 22,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Nilam memiliki nilai ekonomi yang sangat strategis. Hampir setiap parfum premium dunia yang menggunakan nilam berasal dari petani Indonesia. Di Kaltim, nilam bukan hanya peluang bisnis, tetapi juga solusi transisi ekonomi berbasis masyarakat dan lahan pasca-sumber daya alam seperti batubara,” ujarnya.
Potensi pengembangan nilam di Kaltim juga didukung kualitas bahan baku. Penelitian di Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara pada 2022 menunjukkan kadar patchouli alcohol mencapai 32–44 persen, melampaui standar minimal SNI sebesar 30 persen.
Namun, sebagian minyak hasil penyulingan petani masih memiliki bilangan asam tinggi sehingga perbaikan proses produksi diperlukan untuk menjaga kualitas.
Dari sisi budidaya, nilam cocok dengan iklim hangat dan lembap. Panen pertama dapat dilakukan setelah lima hingga enam bulan, kemudian berulang setiap tiga hingga empat bulan.
“Kelebihan nilam adalah produk akhirnya berupa minyak yang ringan, awet, dan bernilai tinggi. Ini sangat cocok dikembangkan di desa-desa hulu Kaltim yang jauh dari pusat pasar,” jelas Dina.
Baca Juga: Porprov Kaltim 2026 di Paser Sesuai Jadwal, KONI Desak Percepatan Registrasi dan Verifikasi Atlet
Menurutnya, keberadaan pelabuhan di Balikpapan dan Samarinda serta kedekatan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) turut membuka peluang pengembangan rantai pasok.
Meski demikian, Dina mengingatkan adanya risiko fluktuasi harga, penurunan kesuburan tanah, dan serangan penyakit apabila nilam dibudidayakan secara monokultur.
Karena itu, pengembangan diarahkan melalui pola agroforestri bersama kakao, kelapa, atau karet. Pemanfaatan lahan terdegradasi juga diutamakan dibandingkan pembukaan kawasan hutan baru.
“Nilam adalah tanaman yang rakus hara. Jika ditanam secara monokultur terus-menerus, kesuburan tanah bisa cepat menurun dan rawan penyakit layu bakteri,” terangnya.
Penggunaan pupuk organik dari ampas penyulingan, rotasi tanaman, serta ketel berbahan stainless steel turut direkomendasikan untuk menjaga produktivitas dan mutu minyak.
IKA UB Kaltim juga memaparkan rencana pengembangan selama tiga tahun, dimulai dari demplot seluas 5–10 hektare, pembentukan koperasi, kerja sama pembeli dengan harga dasar, hingga produksi sabun dan aromaterapi.
Program tersebut diharapkan melibatkan perempuan dan pemuda desa serta memperkuat kolaborasi pemerintah, akademisi, masyarakat, dan swasta dalam membangun ekonomi Kaltim yang lebih beragam dan berkelanjutan. (rd)
Editor : Romdani.