9.512 Balita di Kaltim Terserang ISPA saat Karhutla, Terbanyak dari Balikpapan

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:40 WIB
MEMBAHAYAKAN: Kondisi asap tebal menyelimuti Balikpapan pada periode Oktober 2026, membuat banyak anak terserang ISPA hingga harus dirawat di rumah sakit. ANGGI/KP
MEMBAHAYAKAN: Kondisi asap tebal menyelimuti Balikpapan pada periode Oktober 2026, membuat banyak anak terserang ISPA hingga harus dirawat di rumah sakit. ANGGI/KP

KALTIMPOST.ID - Sebanyak 9.512 anak usia 0–5 tahun di Kaltim mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) periode Agustus hingga 23 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, 190 kasus tercatat sebagai pneumonia dan 27 di antaranya dilaporkan menjalani rawat inap di rumah sakit.

Data Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim yang dihimpun melalui aplikasi District Health Information Software 2 (DHIS2) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) itu mencatat total 37.302 kasus ISPA dari seluruh kelompok umur selama periode yang sama. Sebanyak 27.790 kasus di antaranya terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Diskes Kaltim Fitnawati mengatakan, data tersebut berasal dari laporan puskesmas di wilayah Kaltim yang dimasukkan melalui aplikasi DHIS2 untuk pemantauan ISPA selama situasi karhutla.

Baca Juga: Langit Pekat, Napas Tersengat: Tiga Bulan Penantian Udara Bersih di Kutai Barat

“Dari data bulanan, kasus ISPA pada anak usia 0–5 tahun tercatat sebanyak 3.786 kasus pada Agustus. Angka itu turun menjadi 2.157 kasus pada September, sebelum kembali meningkat menjadi 3.569 kasus hingga 23 Oktober,” paparnya kepada Kaltim Post, Jumat (23/10).

Peningkatan pada Oktober tersebut membuat jumlah kasus yang tercatat hingga 23 Oktober sudah melampaui jumlah kasus sepanjang September. Namun, angka Oktober masih merupakan data berjalan dan belum mencakup satu bulan penuh.

Secara keseluruhan, laporan DHIS2 mencatat 1.300 kejadian ISPA pada 22 Oktober dan 941 kejadian pada 23 Oktober. Angka harian tersebut merupakan bagian dari pemantauan kasus selama situasi karhutla.

Sebaran kasus pada anak usia 0–5 tahun juga tidak merata di seluruh daerah. Balikpapan mencatat jumlah tertinggi dengan 3.208 kasus, disusul Bontang sebanyak 1.413 kasus dan Samarinda sebanyak 1.088 kasus. Kutai Timur mencatat 1.019 kasus, Paser 1.051 kasus, Kutai Kartanegara 709 kasus, Kutai Barat 541 kasus, Penajam Paser Utara (PPU) 300 kasus, Berau 152 kasus, serta Mahakam Ulu 31 kasus.

Baca Juga: Diskes Balikpapan Lakukan 4 Langkah Antisipasi Lonjakan ISPA Usai Adanya Korban Jiwa

Tingginya jumlah kasus yang tercatat di Balikpapan menunjukkan daerah tersebut memiliki beban kasus ISPA balita terbesar dalam laporan ini. Meski demikian, perbandingan tingkat risiko antarwilayah masih memerlukan data jumlah penduduk anak, kelengkapan pelaporan, serta jumlah kasus berdasarkan periode yang sama.

Sementara itu, untuk melihat perbandingan dengan kondisi sebelum periode karhutla, Diskes Kaltim mencatat 148.071 kasus ISPA pada Januari hingga Juli 2026 berdasarkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), yakni minggu epidemiologi pertama hingga ke-32.

Namun, data sebelum periode karhutla tersebut mencakup seluruh kelompok umur. Karena itu, angka tersebut belum dapat digunakan untuk menghitung kenaikan atau penurunan kasus khusus balita dibandingkan periode Agustus hingga Oktober.

“Data yang tersedia juga belum cukup untuk memastikan hubungan langsung antara peningkatan kasus ISPA pada anak dan memburuknya kualitas udara akibat karhutla. Untuk memastikan kaitan tersebut, diperlukan perbandingan data kasus dengan kondisi kualitas udara dan periode paparan asap di masing-masing wilayah,” sebutnya.

Di tengah kondisi tersebut, temuan pneumonia dan laporan rawat inap pada anak menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian dalam pemantauan kesehatan. Data Diskes mencatat 190 kasus pneumonia pada kelompok usia 0–5 tahun selama Agustus hingga 23 Oktober, dengan 27 kasus dilaporkan menjalani rawat inap di rumah sakit.

Diskes Kaltim menggunakan pelaporan DHIS2 untuk memantau kasus ISPA selama situasi karhutla. Pembaruan data secara berkala diperlukan untuk melihat perkembangan kasus, terutama pada kelompok balita yang menjadi fokus pemantauan dalam periode tersebut.

Baca Juga: Kaltim Bersiap Jadi Tuan Rumah BK PON Sepak Takraw, PSTI Fokus Matangkan Persiapan Atlet

Angka-angka itu menjadi gambaran beban ISPA yang tercatat selama situasi karhutla di Kaltim. Namun, perkembangan selanjutnya masih perlu dipantau melalui pembaruan data, termasuk tren kasus pada anak, kondisi pasien yang mengalami pneumonia, serta keterkaitannya dengan perubahan kualitas udara. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
karhutla Kaltim kabut asap Dinkes Kaltim kesehatan anak ispa