Pemilu Israel Buntu, Netanyahu Terancam Lengser?

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Minggu, 1 November 2026 | 07:47 WIB
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu
Benjamin Netanyahu menghadapi ketidakpastian politik setelah pemilu Israel. (Ist)

KALTIMPOST.ID - Israel kini menghadapi ketidakpastian politik setelah pemilu parlemen berakhir tanpa adanya pemenang mutlak.

Blok sayap kanan pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hanya meraih 53 kursi, sementara kubu oposisi di bawah Gadi Eisenkot juga gagal meraih ambang batas mayoritas 61 kursi di Knesset.

Hasil resmi dari Komisi Pemilihan Umum Pusat Israel pada Jumat (30/10/2026) menunjukkan kekuatan politik yang terpecah. Salah satu sorotan utama dalam pemilu kali ini adalah lonjakan dukungan terhadap partai-partai Arab yang mencatat rekor dengan 19 kursi, naik signifikan dari 10 kursi pada pemilu 2022.

Baca Juga: 25 Atlet Bontang Dicoret dari Porprov Kaltim 2026, Terkendala KTP Luar Daerah

Kondisi ini memaksa para pemimpin politik untuk memulai negosiasi panjang. Kini, posisi Eisenkot menjadi krusial karena ia harus memilih antara menjalin koalisi dengan partai Arab untuk mendepak Netanyahu atau bergabung dalam pemerintahan persatuan nasional.

Pengamat dari Israel Democracy Institute, Assaf Shapira, menilai Presiden Israel Isaac Herzog kemungkinan besar akan memberikan kesempatan pertama kepada Eisenkot.

"Berdasarkan hukum Israel dan preseden sebelumnya, presiden biasanya memprioritaskan pemimpin yang memperoleh rekomendasi dukungan terbanyak dari partai lain," ujar Shapira, dilansir dari iNews, Minggu (1/11).

Proses pembentukan pemerintahan baru diprediksi akan memakan waktu lama, berkisar antara 20 hingga 100 hari.

Jika kandidat yang ditunjuk gagal menggalang dukungan dalam waktu 28 hari, Israel menghadapi risiko pemilu ulang yang ingin dihindari oleh Presiden Herzog demi stabilitas negara.***

Editor : Dwi Puspitarini
pemilu israel Politik Israel Partai Arab benjamin netanyahu