PULAU Derawan di Kabupaten Berau, Kalitim, tak hanya terkenal karena keindahan alam bawah lautnya yang memesona. Pulau kecil yang menjadi destinasi unggulan wisata bahari Kota Sanggam ini juga sedang berjuang menjaga kebersihan lingkungan dan melestarikan tradisi budaya yang nyaris terlupakan.
“Masalah sampah merupakan salah satu indikator keberhasilan pariwisata,” kata Kepala Kampung Pulau Derawan, Indra Mahardika saat ditemui Kaltim Post pada Jumat (4/4) Menurutnya, kesadaran lingkungan menjadi bagian penting dari citra pariwisata Derawan di mata wisatawan domestik dan mancanegara.
Pulau Derawan, yang mayoritas dihuni oleh masyarakat suku Bajau, mengelola sampah secara terstruktur dan sistematis. Itu inisiatif yang telah berjalan dari dulu sejak terkenalnya Derawan jadi destinasi wisata. Inisiatif yang ditanamkan sejak dini kepada anak-anak khususnya yang bermukim di Pulau Derawan tentang pentingnya menjaga kebersihan.
“Setiap hari Jumat anak-anak di sekolah melakukan kegiatan pungut sampah di pantai, dan hari Minggu giliran anak-anak yang tergabung dalam komunitas pantai,” ujar Indra.
Langkah-langkah pengelolaan sampah ini juga didukung dengan sistem pemungutan sampah rumah tangga setiap Senin dan Kamis. Sampah yang dikumpulkan dari warga akan diangkut oleh petugas kebersihan dan kemudian diangkut menggunakan kapal ke daratan di Kecamatan Tanjung Batu.
Namun, Indra tak menampik bahwa volume sampah semakin meningkat, terutama saat musim libur. "Satu bulan bisa sampai 30 ton sampah. Sekali angkut bisa delapan ton. Kalau ramai wisatawan bisa tiga kali lipat," ujarnya. Saat ini, pengelolaan sampah masih dibantu oleh petugas lapangan berjumlah delapan orang.
Untuk menjawab tantangan itu, pemerintah kampung tengah membangun Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) yang didanai oleh WWF Indonesia. “Pembangunan sempat tertunda karena masalah perizinan, tapi akhir April ini sudah mulai jalan,” katanya.
Dengan TPS 3R, masyarakat akan lebih teredukasi dalam memilah sampah organik dan non-organik. Sampah plastik akan didaur ulang, sedangkan yang memiliki nilai jual akan dijual kembali. Indra menyebut sistem ini nantinya akan menjadi salah satu pengelolaan sampah terbaik di wilayah pesisir Berau.
Meskipun belum ada sanksi atau denda resmi bagi warga yang membuang sampah ke laut, pemerintah kampung telah menyusun regulasi lokal yang tinggal disosialisasikan. “Langkah hukumnya belum, tapi peraturan kampung sudah kami siapkan,” ucapnya.
Kemudian, berbicara tentang tradisi, di tengah masifnya pembangunan dan geliat pariwisata, Pulau Derawan tak melupakan akar budayanya. Sekitar 98 persen penduduk pulau ini berasal dari suku Bajau yang dikenal sebagai pelaut ulung.
Salah satu tradisi khas yang masih bertahan adalah Baklami-lami, sebuah tradisi masyarakat yang bertujuan mempererat silaturahmi. Dalam kegiatan ini, masyarakat menggelar acara keagamaan, pengobatan alternatif, hingga pertunjukan budaya seperti tarian Daling.
Tarian Daling kerap ditampilkan dalam berbagai acara resmi, termasuk penyambutan tamu kehormatan hingga pernikahan warga. Namun ada juga budaya yang kini mulai jarang dipraktikkan, seperti Bak Jin—sebuah bentuk pengobatan tradisional melalui perantara jin.
“Dulu Bak Jin adalah bagian dari pengobatan tradisional, tapi sekarang nyaris hilang karena dianggap menyimpang,” ujar Indra. Meski demikian, ia menilai praktik budaya tersebut tetap penting sebagai pengetahuan warisan leluhur yang perlu dikenang, meski tak mesti dipraktikkan.
Indra menambahkan, meski acara seperti Bak Jin tak lagi menjadi agenda tetap, kegiatan adat tahunan tetap digelar, terutama di pusat komunitas Bajau di Tanjung Batu. Di Pulau Derawan sendiri, masyarakat tetap menjaga identitas kultural mereka melalui organisasi adat yang aktif melestarikan nilai-nilai budaya suku Bajau.
Pulau Derawan kini menjadi salah satu wajah Kaltim di mata dunia. Tapi di balik laut biru jernih dan pasir putihnya, ada perjuangan warga lokal untuk menjaga kebersihan dan merawat budaya.
“Wisata itu bukan hanya soal tempat yang indah. Tapi juga soal masyarakat yang sadar akan lingkungannya dan bangga dengan budayanya,” kata Indra. (rdh)
NASYA RAHAYA
@nasyarahaya
Editor : Muhammad Ridhuan