KALTIMPOST.ID,KALTIM-Pantai Ambalat kini bertransformasi menjadi primadona wisata di Kaltim.
Memulai hari di sini menawarkan sensasi unik; sarapan ditemani pemandangan matahari terbit di cakrawala laut, sembari mendengarkan simfoni alam dari deburan ombak dan kicauan burung di antara pohon pinus.
Tak hanya fajar, pesona senja di pantai ini pun menjadi momen yang paling diburu wisatawan untuk berswafoto.
Bagi mereka yang ingin menikmati suasana lebih lama, konsep glamping (camping mewah) menjadi pilihan favorit.
Pengunjung tidak perlu lagi repot membawa peralatan atau tidur di atas pasir yang dingin. Fasilitas yang tersedia sudah mencakup tenda berkualitas dan kasur yang nyaman.
Baca Juga: Ganasnya Oknum TNI AL Hajar Dua Warga di Depok: Satu Orang Tewas, Istri Korban Minta Keadilan
"Suasananya sangat syahdu dan romantis, pas sekali untuk berkemah," tutur Indra Shanum, seorang pelancong asal Samarinda yang menikmati kopi susu di depan tenda bersama sang istri.
Pantai Ambalat terletak di Desa Amborawang Laut, Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara (Kukar).
Lokasinya cukup strategis, dapat dijangkau dalam satu jam dari Balikpapan atau sekitar dua jam perjalanan dari Samarinda.
Potensinya yang besar bahkan menarik perhatian Otorita IKN sebagai salah satu wilayah penyangga ibu kota baru Indonesia.
Baca Juga: Tengok Fasilitas Baru di Bamboe Wanadesa, Ingin Jadi Wisata Alam dan Edukasi bagi Pengunjung
Saat ini, terdapat enam titik penginapan dengan berbagai pilihan cottage dan paket glamping yang menyesuaikan kebutuhan, mulai dari kunjungan keluarga hingga acara komunitas.
Ambalat menjadi destinasi populer tidaklah instan. Syahrudin, ketua Pokdarwis Desa Amborawang Laut, mengenang masa sulit di tahun 2010 saat area tersebut masih berupa hutan belantara dengan akses jalan yang terbatas. Momentum kebangkitan dimulai pada 2019 sejak pengelolaan dilakukan secara profesional oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis).
Baca Juga: Temuan BRIN: Bukan Salmon atau Gabus, Ikan Sidat RI Jadi Sumber Omega-3 Tertinggi Dunia
Dukungan listrik dan infrastruktur dari program CSR PLN pada 2019 menjadi titik balik penting yang membuat kawasan ini "hidup" selama 24 jam.
Kini, roda ekonomi warga sekitar bergerak melalui kedai kopi, warung makan, hingga penyewaan wahana seperti ATV.
Untuk menjaga kebersihan dan memperbaiki akses, pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar Rp 30 ribu untuk mobil, Rp 15 ribu untuk sepeda motor, dan Rp 150 ribu bagi bus.
Pendapatan ini dikelola langsung oleh 15 anggota pokdarwis untuk pemeliharaan kawasan.
Ke depan, Ambalat tidak hanya menawarkan pasir dan laut. Potensi ekowisata mangrove yang dihuni satwa endemik seperti bekantan dan monyet ekor panjang tengah dikembangkan.
Baca Juga: Hoaks Menyebar Lebih Cepat dari Fakta, Ini 5 Cara Sederhana agar Tidak Terjebak
Rencananya, akan dibangun jembatan susur bakau agar wisatawan dapat melihat satwa liar di habitat aslinya secara aman tanpa merusak ekosistem.(*)
Editor : Dwi Puspitarini