Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

MindHive Balikpapan Tawarkan Model Bimbingan Belajar Berbasis Kemitraan Guru

R
Penulis: Redaksi KP❯
MindHive mengembangkan model pembelajaran berbasis kemitraan dengan menempatkan guru sebagai mitra yang dapat menawarkan kelas sesuai kompetensi, jadwal, dan kebutuhan pembelajar.
MindHive mengembangkan model pembelajaran berbasis kemitraan dengan menempatkan guru sebagai mitra yang dapat menawarkan kelas sesuai kompetensi, jadwal, dan kebutuhan pembelajar.

Advertisement

BALIKPAPAN – Model bimbingan belajar umumnya dibangun dengan menentukan program dan kurikulum terlebih dahulu, kemudian merekrut guru untuk mengajar. MindHive mencoba pendekatan berbeda dengan menjadikan guru sebagai titik awal pengembangan kelas.

Platform pendidikan berbasis aplikasi web ini mengajak pengajar bergabung sebagai mitra. Kelas kemudian disusun berdasarkan kompetensi, minat, jadwal, dan tarif yang ditawarkan masing-masing pengajar. Calon pembelajar dapat memilih kelas sesuai kebutuhan dan tujuan belajarnya.

Founder sekaligus Head of Systems & Finances MindHive, Andrio Suroyo, mengatakan, konsep tersebut berangkat dari gagasan membangun ekosistem belajar yang memberi ruang lebih luas bagi guru untuk mengembangkan kompetensi dan mengelola kegiatan mengajar secara fleksibel.

Advertisement

“Kalau bimbingan belajar konvensional, biasanya sistem dan kurikulum ditentukan terlebih dahulu, kemudian guru direkrut untuk mengikuti sistem tersebut. Kami membalik prosesnya. Guru bergabung sebagai mitra, lalu kami melihat preferensi dan kelas yang ingin mereka tawarkan,” ujarnya.

Konsep itu mulai dikembangkan secara serius pada awal 2026, setelah para penggagasnya bertukar pandangan mengenai pendidikan sejak 2025. MindHive mulai beroperasi pada 3 Oktober 2026.

Advertisement

Melalui platform tersebut, calon pembelajar dan orang tua dapat melihat profil pengajar, bidang keahlian, pilihan kelas, jadwal, kapasitas peserta, serta tarif sebelum menentukan pilihan. MindHive menyediakan sistem digital, tim pendukung, dan ruang belajar bagi pengajar yang ingin membuka kelas.

Pendekatan pembelajaran juga dirancang agar sesuai dengan tujuan masing-masing peserta. Head of Academics MindHive, Alexandra Melissa atau Ms Amy, menjelaskan, kebutuhan pembelajar tidak selalu sama meski mempelajari bidang yang serupa.

Siswa yang ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggris untuk mengikuti pelajaran sekolah, misalnya, memiliki kebutuhan berbeda dengan peserta yang mempersiapkan IELTS. Begitu pula pembelajar yang mengikuti olimpiade.

Karena itu, menurut dia, pengajar perlu melakukan asesmen awal untuk memahami kebutuhan peserta, kemudian menetapkan indikator keberhasilan berdasarkan tujuan pembelajaran yang disepakati.

Layanan yang dikembangkan MindHive juga tidak hanya mencakup mata pelajaran akademik. Head of Growth & Publications MindHive, Adytya Lambang Nugraha, mengatakan, keterampilan seperti pembuatan konten dan menggambar digital berpeluang dikembangkan menjadi kelas, sepanjang dapat diajarkan dengan fasilitas yang tersedia.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer