Antisipasi DBD, Diskes Kaltim Perkuat Peran Jumantik dan Pemetaan Wilayah Rawan

BALIKPAPAN - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Masyarakat diminta segera melakukan mitigasi dini karena puncak kasus diprediksi terjadi pada Desember hingga Januari mendatang.
“Tren kasus DBD biasanya mengikuti pola curah hujan. Berdasarkan data lima tahun terakhir, puncak penyebaran penyakit terjadi 1 hingga 1,5 bulan setelah awal musim hujan yang masif,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Andi Muhammad Ishak.
Teknisnya apabila musim hujan mulai masif pada November hingga Desember, maka Kaltim harus siap siaga menghadapi potensi puncak kasus pada Desember hingga Januari.
Andi menekankan bahwa DBD sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah sepenuhnya. Namun, data saat ini menunjukkan angka Case Fatality Rate (CFR) di Kaltim masih mendekati 1 persen, yang berarti masih terdapat risiko kematian akibat penyakit tersebut.
Untuk menekan angka tersebut, seluruh dinas kesehatan tingkat kabupaten/kota diinstruksikan mengaktifkan kembali gerakan pemberantasan sarang nyamuk. Program utama adalah penerapan satu rumah satu juru pemantau jentik atau Jumantik secara serentak.
Selain upaya di lapangan, Diskes Kaltim kini mengoptimalkan pemanfaatan teknologi untuk pemetaan wilayah rawan. “Sistem informasi geografis atau Geographic Information System (GIS) digunakan untuk memetakan titik konsentrasi kasus agar intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran,” bebernya.
Andi turut menyoroti pentingnya sistem peringatan dini dengan memanfaatkan data cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Integrasi analisis data dan kajian entomologi diharapkan dapat menekan angka kesakitan serta mencegah terjadinya kematian akibat DBD secara lebih efektif,” tutupnya. (*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




