
KALTIMPOST.ID - Lingkungan bersih tidak lahir dari satu tangan yang bekerja sendirian. Ia terbentuk dari banyak tangan yang melakukan hal kecil secara berulang. Berawal dari 10 nasabah, Bank Sampah Asrama Bukit RT 63 di Balikpapan Barat tumbuh menjadi gerakan kecil yang mengubah kebiasaan warga.
Sebuah drop box biru terang dengan tinggi 1 meter itu hampir penuh. Sengaja dipajang di persimpangan gang yang menghubungkan RT 63 dan RT 12 Baru Ilir, Balikpapan Barat, agar warga yang melintas dengan membawa botol plastik kosong bisa segera memasukannya. Sehingga, tidak semua yang dibuang benar-benar kehilangan nilai.
Botol plastik yang semula dianggap tak berguna pun bisa menjelma jadi rupiah. Kardus bekas yang menumpuk di sudut rumah dapat menjadi tabungan kecil. Bahkan, sisa makanan yang biasanya berakhir di tempat pembuangan sampah bisa kembali menyuburkan tanah.
Baca Juga: Serunya BBQ Night All You Can Eat di SkyHouse, Ada Promo Buy 2 Get 3
Kesadaran sederhana itulah yang perlahan tumbuh di lingkungan Asrama Bukit. Di kawasan permukiman padat penduduk tersebut, sampah tidak lagi semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan.
Ada kebiasaan baru yang terus dirawat. Mengumpulkan, memilah, membersihkan. Setelahnya, sampah diserahkan ke Bank Sampah Asrama Bukit atau yang dikenal Bank Sampah Askit.
Bagi Lilis, salah seorang nasabah Bank Sampah Askit, kebiasaan mengumpulkan sampah daur ulang kini menjadi bagian dari kesehariannya. Plastik, botol, kertas, kardus, hingga berbagai barang bekas berbahan lain tidak serta-merta dibuang begitu saja. Ia mengumpulkannya terlebih dahulu, kemudian menyetorkannya ketika kegiatan penimbangan berlangsung.
"Setelah dua atau tiga mingguan (sampah bersih) itu kami bawa ke Bank Sampah Askit," ungkap ibu rumah tangga itu kala menjawab pertanyaan awak media yang tengah mengikuti pertandingan jurnalistik Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) ke-IV Kaltim 2026, Rabu (4/11).
Baca Juga: Central Park Terapkan Teknologi X-Ray hingga Sensor Parkir, Pengunjung Tak Perlu Keliling
Hasil yang diperoleh memang tidak selalu besar. Nilainya mungkin tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk mengumpulkan sampah satu demi satu. Namun, bagi Lilis, ada sesuatu yang jauh lebih berharga dari pada sekadar uang hasil penjualan barang bekas tersebut.
Ada pundi-pundi kepedulian yang tumbuh dari kebiasaan kecil. Ada napas keberlanjutan bahwa menjaga lingkungan bukan pekerjaan yang harus menunggu instruksi pemerintah atau program besar. Semuanya bisa dimulai dari rumah, dari tempat sampah sendiri, bahkan dari sebotol plastik yang semula hendak dilempar begitu saja.
Kebiasaan itu menjadi gambaran bahwa perubahan lingkungan tidak selalu lahir dari gerakan besar yang riuh. Bagi Lilis, Bank Sampah Askit bukan sekadar tempat menukar sampah dengan rupiah. Lebih dari itu, tempat tersebut menjadi ruang belajar bersama untuk memahami bahwa setiap rumah memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkannya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




